This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 15 Agustus 2022

Ngaji kitab kasyifatusaja 11.

Ngaji kitab kasyifatusaja 11.

(فصل) في بيان دعائم الإسلام وأساسها وأجزائها

Fasal ini menjelaskan tentang tiang-tiang Islam, dasar- dasarnya, dan bagian-bagiannya.

(أركان الإسلام خمسة) فلا ينبنى بغيرها فإضافة الأركان من إضافة الأجزاء إلى الكل أي
الدعائم والأساس والأجزاء التي يتركب الإسلام منها خمسة فلا يكون من غيرها قال
الباجوري الإسلام لغة مطلق الانقياد أي سواء كان للأحكام الشرعية أو لغيرها وشرعاً 
الانقياد للأحكام الشرعية وقيل الإسلام هو العمل انتهى

[Rukun-rukun Islam ada lima.] Dengan demikian, Islam
tidak tersusun oleh selain dari lima tersebut.
 Mengidhofahkan lafadz اركان pada lafad الاسلام
merupakan
bentuk pengidhofahan bagian pada keseluruhan, maksudnya, tiang-
tiang, dasar-dasar, dan bagian-bagian yang islam tersusun atas
mereka ada lima. Oleh karena itu, Islam tidak tersusun atas selain
mereka.
Syeh Bajuri berkata, “Islam menurut bahasa berarti mutlak
mengikuti, maksudnya baik mengikuti hukum-hukum syariat atau
yang lainnya. Sedangkan Islam menurut istilah berarti mengikuti
hukum-hukum syariat. Ada yang mengatakan bahwa pengertian
Islam adalah mengamalkan (hukum-hukum syariat)”

A. Bersyahadat

أولها (شهادة) أي تيقن (أن لا إله) أي لا معبود بحق موجود (إلا االله) وهو متصف
بكل كمال لا اية له ولا يعلمه إلا هو ومنزه عن كل نقص ومنفرد بالملك والتدبير
واحد في ذاته وصفاته وأفعاله (وأن محمداً ) بن عبد االله بن عبد المطلب بن هاشم بن
عبد مناف (رسول االله)
 
Rukun Islam yang pertama adalah [bersaksi,] maksudnya
meyakini, [bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan,] maksudnya
tidak ada yang berhak disembah [kecuali Allah.]
Allah adalah Tuhan yang disembah yang bersifatan dengan
segala kesempurnaan yang tidak terbatas dan yang tidak diketahui
kecuali oleh-Nya sendiri, dan Tuhan yang disucikan dari segala
kekurangan, dan Tuhan Yang Maha Esa dalam merajai dan
mengatur, dan Yang Maha Esa dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan
Perbuatan-perbuatan-Nya.
[Dan bersaksi sesungguhnya Muhammad] bin Abdullah bin
Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdu Manaf [adalah utusan
Allah.]

واختلف العلماء في بعثة النبي صلى االله عليه وسلّم إلى الملائكة على قولين وجزم
الحليمي والبيهقي أنه لم يكن مبعوثاً إليهم ورجح السيوطي والشيخ تقي الدين السبكي
أنه كان مبعوثاً إليهم وزاد السبكي أنه صلى االله عليه وسلّم مرسل إلى جميع الأنبياء
والأمم السابقة وأن قوله صلى االله عليه وسلّم بعثت إلى الناس كافة شامل لهم من لدن
آدم إلى قيام الساعة ورجحه البارزي وزاد أنه مرسل إلى جميع الحيوانات والجمادات من
رمل وحجر ومدر وزيد على ذلك أنه مرسل إلى نفسه ذكر ذلك في تزيين الأرائك قال
صلى االله عليه وسلّم وأرسلت إلى الخلق كافة

Para ulama berselisih pendapat tentang terutusnya Rasulullah
Muhammad kepada para malaikat hingga menghasilkan dua
pendapat.

Syeh Halimi dan Baihaqi menetapkan bahwa Rasulullah
Muhammad tidak diutus kepada para malaikat. Syeh Suyuti dan Syeh
Taqiyudin as-Subki mengunggulkan bahwa Rasulullah Muhammad

diutus kepada mereka. Syeh as-Subki menambahkan bahwa
Rasulullah Muhammad diutus kepada seluruh para nabi dan umat- umat terdahulu dan bahwa sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa
sallama yang berbunyi, “Aku diutus kepada seluruh manusia,”
mencakup manusia dari zaman Adam sampai Hari Kiamat.
Tambahan keterangan dari Syeh as-Subki ini diunggulkan
oleh Syeh al-Bazari dan ia menambahkan bahwa Rasulullah
Muhammad diutus kepada seluruh makhluk hidup dan benda mati,
seperti pasir, batu, dan lumpur. Kemudian ditambahkan lagi bahwa
Rasulullah Muhammad diutus kepada dirinya sendiri.
Demikian ini semua disebutkan dalam kitab Tazyiini al- Arooik. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Aku
diutus kepada seluruh makhluk.”

(فائدة) قال الباجوري وقد ذكر بعضهم أن من تمام الإيمان أن يعتقد الإنسان أنه لم
يجتمع في أحد من المحاسن الظاهرة والباطنة مثل ما اجتمع فيه صلى االله عليه وسلّم

[FAEDAH]
Syeh al-Bajuri berkata, “Sesungguhnya sebagian ulama telah
menyebutkan bahwa termasuk salah satu kesempurnaan keimanan
adalah seseorang meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang
memiliki kebaikan dzohir dan batin seperti yang dimiliki oleh
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.”

Cattatan.

يجب على كافة المكلفين الدخول في دين الاسلام

“Wajib bagi seluruh mukallaf masuk ke dalam agama Islam”

Keterangan:

– Mukallaf adalah orang yg baligh, berakal dan telah sampai kepadanya dakwah Islam (telah mendengar dua kalimah syahadat).

👉Anak kecil dan orang gila bukan mukallaf

👉 Orang pedalaman seandainya belum pernah mendengar dua kalimah syahadat bukan mukallaf

– Kenapa setiap mukallaf wajib masuk Islam?

👉 Karena Islam adalah adalah satu-satunya agama yg benar dan diridloi oleh Allah :

(إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ)

[Surat Ali ‘Imran 19]

👉 Islam adalah agama seluruh para nabi dan Rasul. Rasulullah shallallahu alayhi wasallam.

Nabi Isa alaihis salaam kelak turun ke dunia lagi sebagai Hakim

- Kitab Thorhut Tatsrib (8/117) :

عَنْ  سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صلى الله  عليه وسلم : " يُوشِكُ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا  مُقْسِطًا ، يَكْسِرُ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعُ  الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ".
Dari sa'id dari Abu Hurairoh, Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : " Telah dekat turunnya Ibnu Maryam pada kalian sebagai HAKIM  lalu ia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus upeti dan harta melimpah  ruah sehingga tidak ada seorang pun yang menerimanya" (HR Bukhori dan Muslim).

قَوْلُهُ : حَكَمًا بِفَتْحِ الْكَافِ ، أَيْ : حَاكِمًا ، وَالْمُرَادُ :  أَنَّهُ يَنْزِلُ حَاكِمًا بِهَذِهِ الشَّرِيعَةِ لا نَبِيًّا بِرِسَالَةٍ  مُسْتَقِلَّةٍ وَشَرِيعَةٍ نَاسِخَةٍ ، فَإِنَّ هَذِهِ الشَّرِيعَةَ  بَاقِيَةٌ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لا تُنْسَخُ ، وَلا نَبِيَّ بَعْدَ  نَبِيِّنَا كَمَا نَطَقَ بِذَلِكَ ، وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ بَلْ  هُوَ حَاكِمٌ مِنْ حُكَّامِ هَذِهِ الأُمَّةِ

Sabda Nabi Hakaman dengan fathah huruf kaf maksudnya adalah haakiman, maksudnya  bahwa Nabi Isa turun sebagai HAKIM dengan syare'at ini (islam) bukan sebagai nabi dengan risalahnya yang tersendiri dan bukan pula membawa syare'at yang menghapus , karena sesungguhnya syare'at islam tetap langgeng sampai hari kiamat tidak dihapus dan tidak ada nabi setelah Nabi  kita Muhammad sebagaimana nabi bersabda dalam hal itu. Nabi Isa AS adalah shodiq al mashduq bahkan beliau adalah Hakim dari para hakimnya umat ini.

والله اعلم

Ngaji kitab kasyifatusaja 9

Ngaji kitab kasyifatusaja 10

(ولا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم) أي لا تحول عن معصية االله إلا باالله ولا قوة
على طاعة االله إلا بعون االله هكذا ورد تفسيره عنه عليه السلام عن جبريل أفاده شيخنا
يوسف السنبلاويني والعلي المرتقع الرتبة المنزه عما سواه والعظيم ذو العظمة والكبرياء
قاله الصاوي

kemampuan ada tidak Artinya] 

لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم,]

menghindari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah dan tidak ada
kekuatan melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Demikian ini adalah tafsirannya yang terdengar dari Rasulullah
‘alaihi as-salam dari Jibril, seperti yang disebutkan oleh Syaikhuna
Yusuf as-Sunbulawini. Lafadz ‘العلي ‘berarti Yang Maha Luhur
Derajat-Nya, dan Yang Maha Suci dari segala sesuatu selain-Nya.
Lafadz ‘العظيم ‘berarti Yang Memiliki Keagungan dan Kesombongan,
seperti yang dikatakan oleh as-Showi.

وإنما أتى المصنف بالحوقلة لأجل التبري منهما، فهذه علامة الإخلاص منه رضي االله
عنه كما قاله بعضهم :صحح عملك بالإخلاص وصحح إخلاصك بالتبري من الحول
والقوة وأيضاً هي غراس الجنة كما في حديث المعراج لما رأى رسول االله صلى االله عليه
وسلّم سيدنا إبراهيم عليه السلام جالساً عند باب الجنة على كرسي من زبرجد أخضر
قال لسيدنا رسول االله صلى االله عليه وسلّم مر أمتك فلتكثر من غراس الجنة فإن أرضها
طيبة واسعة فقال وما غراس الجنة؟ فقال لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم

Adapun Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi mendatangkan lafadz hauqolah.

لا حول ولا قوة إلا باالله

adalah karena mengakui
ketidakmampuannya akan menghindari maksiat dan melakukan

ketaatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah.

 Alasan ini
merupakan bukti keikhlasan darinya radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah dikatakan oleh sebagian ulama, “Absahkanlah
amalmu dengan ikhlas dan absahkanlah keikhlasanmu dengan
mengakui ketidakmampuanmu menghindari maksiat dan melakukan
ketaatan kecuali dengan (pertolongan) Allah!”
Selain itu, lafadz hauqolah adalah tanaman-tanaman surga,
seperti yang disebutkan dalam hadis Mi’roj, “Ketika Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallama melihat Nabi Ibrahim ‘alaihi as- salam yang tengah duduk di samping pintu surga di atas kursi yang
terbuat dari intan zabarjud hijau, Nabi Ibrahim berkata kepada
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ‘Perintahkanlah umatmu
untuk memperbanyak tanaman-tanaman surga karena tanah surga
sangatlah subur dan luas!’ Rasulullah bertanya, ‘Apa tanaman-
tanaman surga itu?’ Nabi Ibrahim menjawab, ‘Tanaman-tanaman surga adalah

لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم.

وقال القليوبي في شرح المعراج فائدة روي عن ابن عباس رضي االله عنهما أنه قال قال رسول االله صلى االله عليه وسلّم من مشى إلى غريمه بحقه يؤديه إليه صلت عليه دواب
الأرض ونون البحار أي حيتا ا وغرس له بكل خطوة شجرة في الجنة وغفر له ذنب وما
مني غريم يلوي غريمه أي يماطله ويسوف به وهو قادر إلا كتب االله عليه في كل وقت
إثماً 
Qulyubi berkata dalam Syarah al-Mi’roj, “(Faedah)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia
berkata, ‘Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda; Barang
siapa berjalan menuju orang yang menghutanginya dengan
membawa hak pihak yang menghutangi karena hendak membayar
hutang kepadanya maka binatang-binatang di atas bumi dan ikan-
ikan di lautan memintakan rahmat untuknya, dan ditanamkan
baginya pohon di surga dengan setiap langkahnya, dan diampuni
dosa darinya. Tidak ada orang yang berhutang yang menunda-nunda
membayar kepada orang yang menghutanginya padahal ia mampu

untuk membayarnya kecuali Allah menulis dosa untuknya di setiap
waktu.’”

ومن خواصها ما في فوائد الشرجي قال ابن أبي الدنيا بسنده إلى النبي صلى االله عليه
وسلّم أنه قال من قال كل يوم لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم مائة مرة لم يصبه
فقر أبداً اه

Termasuk keistimewaan kalimah hauqolah adalah seperti
yang tertulis dalam kitab Fawaid asy-Syarji bahwa Ibnu Abi Dun -ya
berkata dengan sanadnya yang sampai pada Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallama bahwa beliau bersabda, “Barang siapa membaca :

لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم’

setiap hari 100 kali maka ia tidak akan
tertimpa kefakiran selamanya.”

وروي في الخبر أيضاً إذا نزل بالإنسان مهم وتلا لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم
ثلاثمائة مرة فرج االله عنه أي أقلها ذلك ذكره شيخنا يوسف في حاشيته على المعراج

Diriwayatkan dalam hadis juga, “Ketika seseorang memiliki
hajat yang penting, dan ia membaca.

 لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم

sebanyak minimal 300 kali maka Allah memudahkan hajat itu.”
Demikian ini disebutkan oleh Syaikhuna Yusuf dalam Hasyiah-nya
a'la almi'roj.

(تنبيه) قال العلماء رضي االله عنهم اعلم أنه لا يثاب ذاكر على ذكره إلا إذا عرف ‘
معناه ولو إجمالاً بخلاف القرآن فيثاب قارئه مطلقاً، نبه على ذلك القليوبي

[TANBIH]
Ulama radhiyallahu ‘anhum berkata, “Ketahuilah!
Sesungguhnya seseorang tidak akan diberi pahala atas dzikirnya
kecuali ketika ia mengetahui makna dzikirnya tersebut meskipun
secara global. Berbeda dengan al-Quran, maka sesungguhnya orang
yang membacanya akan diberi pahala secara mutlak, baik

mengetahui maknanya ataupun tidak.” Demikian ini disebutkan oleh
Qulyubi.

(فائدة) قال المقدسي رحمه االله تعالى الألف واللام في أسمائه تعالى للكمال لا للعموم ولا
للعهد قال سيبويه تكون لام التعريف للكمال تقول زيد الرجل أي الكامل في الرجولية
وكذلك هي من أسمائه تعالى، ذكر هذين القولين أحمد التونسي في نشر اللآلي

[FAEDAH]
Al-Muqoddasi rahimahullah berkata, “Huruf ‘ال ‘yang masuk
dalam lafadz nama-nama Allah ta’ala berfungsi menunjukkan arti
kesempurnaan, bukan arti umum atau ‘ahdi.” Sibawaih berkata,
“Huruf ‘ل ‘yang berfungsi memakrifatkan (isim nakiroh) bisa
menunjukkan arti kesempurnaan. Seperti kamu mengatakan;

زيد الرجل
Zaid adalah orang yang sempurna sifat kelaki-lakiannya. Demikian
juga huruf ‘ل ‘yang masuk dalam lafadz nama-nama Allah ta’ala. [Dengan demikian ketika kamu mengatakan;
االله القدير
 
maka artinya adalah Allah Yang Maha Sempurna Kekuasaan-Nya.]”
Dua pendapat ini, maksudnya dari al-Muqoddasi dan Sibawaih,disebutkan oleh ahmad at Tunisi
dalam kitab Nasrul al laali.

واعلم أن لفظ الجلالة أعرف المعارف باتفاق .ويحكى أن سيبويه رؤي في المنام وأخبر 
بأن االله تعالى أكرمه بكرامة عظيمة بقوله ان اسمه تعالى أعرف المعارف
Ketahuilah! Sesungguhnya lafadz Jalalah atau ‘االله ‘adalah
lafadz yang paling makrifat berdasarkan kesepakatan para ulama.
Dikisahkan bahwa Sibawaih diimpikan dalam tidur
seseorang. Sibawaih memberitahunya bahwa Allah telah
memuliakannya dengan kemuliaan yang agung karena ucapannya,
“Sesungguhnya nama ‘االله ‘ta’aala adalah kalimah isim yang paling
makrifat.”

Cattatan..

قَالَ النَّوَوِيُّ هِيَ كَلِمَةُ اسْتِسْلَامٍ وَتَفْوِيْضٍ، وَأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ مِنْ أَمْرِهِ شَيْئًا، وَلَيْسَ لَهُ حِيْلَةٌ فِي دَفْعِ شَرٍّ وَلَا قُوَّةَ فِي جَلْبِ خَيْرٍ إِلَّا بِإِرَادَةِ اللهِ

   Artinya, “Imam an-Nawawi berkata: 'Kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah..

 adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah), 

dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, tidak ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak 
Allah سبحانه وتعالى

و لسامعهما ان تقول و لو غير متوضئ مثل قولهما الا فى حيعلات فيحوقل.....اى يقول المجيب بدل كل منها : لا حول ولا قوة الا بالله يقولها اربع مرات، و انما يسن للمجيب ذلك لانه تفويض مخض الى الله تعالى، و الحيعلات دعاء الى الصلاة فلا يليق بغير المؤذن  نهاية الزين ٩٧

Bagi orang yang mendengarkan adzan mengucapkan -walaupun tidak memiliki wudlu- seperti ucapan muadzdzin kecuali pada lafadh hay'alaat,

 pendengar mengucapkan hawqalah, yaitu menjawab sebagai ganti dari hay'alaat laa hawla wa laa quwwata illaa billaah empat kali, dan disunnahkannya menjawab dengan hawqalah ..

karena hal itu merupakan bentuk kepasrahan yang murni kepada Allah dan hay'alaat adalah ajakan untuk shalat maka tidaklah pantas hal itu kecuali bagi muadzdzin..

ALASAN ketidaksamaan jawaban untuk "Hai'alah" Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Syarh Shahih Bukhari :

بِأَنَّ الْأَذْكَارَ الزَّائِدَةَ عَلَى الْحَيْعَلَةِ يَشْتَرِكُ السَّامِعُ وَالْمُؤَذِّنُ فِي ثَوَابِهَا وَأَمَّا الْحَيْعَلَةُ فَمَقْصُودُهَا الدُّعَاءُ إِلَى الصَّلَاةِ وَذَلِكَ يَحْصُلُ مِنَ الْمُؤَذِّنِ فَعُوِّضَ السَّامِعُ عَمَّا يَفُوتُهُ مِنْ ثَوَابِ الْحَيْعَلَةِ بِثَوَابِ الْحَوْقَلَةِ
Bahwa dzikir yang ditambah sebagai jawaban Hai'alah tersebut berguna untuk pemerataan pahala antara si pendengar dan si mu'adzdzin.

 Hai'alah tujuannya mengajak sholat, oleh karena itu pahalanya hanya untuk muadzdzin, dan untuk si pendengar sebagai ganti dari kekosongan pahala Hai'alah maka digantilah dengan pahala Hauqalah sebagai jawabannya..

والله اعلم


Ngaji kitab kasyifatusaja 8.


*Yang dimaksud dengan para keluarga Rasulullah..*

(وآله) وهم جميع أمة الإجابة لخبر آل محمد كل تقي أخرجه الطبراني وهو الأنسب بمقام
الدعاء ولو عاصين لأ م أحوج إلى الدعاء من غيرهم وأما في مقام الزكاة فالمراد بالآل
هم بنو هاشم وبنو المطلب

[Dan] sholawat dan salam tercurahkan untuk [para
keluarganya]. 

Yang dimaksud dengan para keluarga Rasulullah..

adalah seluruh umat yang menerima ajakan dakwahnya karena
adanya hadis, “Keluarga Muhammad adalah setiap orang yang
bertakwa.” Hadis ini diriwayatkan oleh Tabrani.
Pengertian keluarga Rasulullah di atas adalah yang lebih
pantas dalam maqom doa, meskipun mereka adalah orang-orang
yang bermaksiat karena orang-orang yang bermaksiat lebih
membutuhkan untuk didoakan daripada yang selain mereka. 

Adapun
dalam maqom zakat, yang dimaksud dengan keluarga Rasulullah
adalah mereka yang berasal dari keturunan Bani Hasyim dan Bani
Muthollib

(تنبيه) أصل آل أهل قلبت الهاء همزة توصلاً لقلبها ألفاً ثم قلبت الهمزة ألفاً لسكونها
وانفتاح ما قبلها هذا مذهب سيبويه وقال الكسائي أصله أول على وزن جمل تحركت
الواو وانفتح ما قبلها قلبت ألفاً 

(TANBIH) Asal lafadz ‘آل ‘adalah ‘أهل .‘Huruf /ھ /diganti
dengan hamzah /ء /untuk mempermudah menggantinya menjadi alif
/ /. Kemudian hamzah diganti dengan alif karena menyandang sukun
dan huruf sebelumnya berharokat fathah. Ini adalah perubahan
menurut madzhab Sibawaih.
Kisai berkata, “Asal lafadz ‘آل ‘adalah أول ‘berdasarkan
wazan dari lafad‘جمل .‘Huruf wawu ( ) menyandang harokat dan
huruf sebelumnya dibaca fathah maka huruf wawu diganti dengan alif.

Catatan..

Syekhul Islam, Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam kitabnya Al Fushulul Ilmiyah wal Ushul Al Hikamiyah menyebut bahwa ahlul bait Rasulullah Saw harus dihormati dan dicintai.

لأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم شرف ولرسول الله صلى الله عليه وسلم بهم مزيد عناية وقد أكثر على أمته من الوصية بهم والحث على حبهم ومودتهم...

Ada kemuliaan tersendiri bagi ahli bait Rasulullah  صلى الله عليه وسلم, dan Rasulullah 
صلى الله عليه وسلم memberikan perhatian (menunjukkan kepedulian) yang besar kepada mereka. Beliau juga banyak berwasiat dan mengimbau umatnya untuk mencintai dan menyayangi mereka.

Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad juga menjelaskan,

وأما من كان من أهل هذا البيت ليس على مثل طرائق أسلافهم الطاهرين، وقد دخل عليهم شيء من التخليط الغلبة الجهل، فينبغي أيضا أن يعظموا ويحترموا لقرابتهم من رسول الله. ولا يدع المتأهل للنصيحة نصحهم وحثهم على الأخذ بما كان عليه سلفهم الصالح، من العلم، والعمل الصالح، والأخلاق الحسنة ، والسير المرضية، ويخبرهم أنهم أولى بذلك وأحق به من سائر الناس، وأن مجرد النسب لا ينفع ولا يرفع مع إضاعة التقوی، والإقبال على الدنيا، وترك السطاعات والتدنس بدنس المخالفات.

“Dan siapapun ahlul bait nabi namun ternyata pekertinya tidak selaras dengan leluhur mereka yang suci, berarti telah tercampur dalam diri mereka ketidaktahuan. Maka seyogyanya mereka tetap harus dihormati dan dimuliakan karena adanya kedekatan nasab dengan rasulullah. Dan bagi orang yang memiliki kemampuan menasihati, agar menasihati mereka dan mendorong mereka agar senantiasa berpegang teguh di jalan leluhur mereka yang salih, dengan ilmu, perbuatan baik, akhlak yang terpuji, dan tindakan yang diridhoi.” (Al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, al-Fushul al-Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah.

Imam Syafi’i dikatakan pernah menggubah sebuah syair.

‏ﻭﻟﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻗﺪ ﺫﻫﺒﺖ ﺑﻬﻢ # ﻣﺬﺍﻫﺒﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﺑﺤﺮ ﺍﻟﻐﻲ ﻭﺍﻟﺠﻬﻞ

ﺭﻛﺒﺖ ﻋﻠﻰ ﺍﺳﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺳﻔﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎ # ﻭﻫﻢ ﺍﻫﻞ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﺧﺎﺗﻢ ﺍﻟﺮﺳﻞ

“Ketika aku melihat pemikiran manusia telah bermuara di samudera kesesatan dan kebodohan, aku menaiki perahu keselamatan atas nama Allah. 

Perahu Keselamatan itu adalah (mencintai dan mengikuti) keluarga nabi shallahu’alaihiwasallam sang penutup para rasul.

والله اعلم

Ngaji kitab kasyifatu saja 7.

Ngaji kitab kasyifatu saja 7.

(على سيدنا محمد) 
هو أفضل أسمائه صلى االله عليه وسلّم والمسمي له بذلك جده عبد
المطلب في سابع ولادته لموت أبيه قبلها فقيل له لم سميته محمداً وليس من أسماء آبائك
ولا قومك؟ فقال رجوت أن يحمد في السماء والأرض وقد حقق االله رجاءه وقيل
المسمي له بذلك أمه أتاها ملك فقال لها حملت بسيد البشر فسميه محمداً 

Sholawat dan salam semoga tercurahkan [atas pemimpin
kita, Muhammad,] Nama Muhammad adalah nama yang paling
utama baginya, shollallahu ‘alaihi wa sallama. Orang yang
memberinya nama Muhammad adalah kakeknya, Abdul Mutholib,
pada hari ke-tujuh kelahirannya. Alasan mengapa yang memberi
nama adalah Abdul Mutholib karena ayahnya, Abdullah, telah wafat
sebelum kelahirannya. Abdul Mutholib ditanya, “Mengapa kamu
memberinya nama Muhammad padahal nama Muhammad bukanlah
termasuk salah satu dari nama-nama pendahulumu dan kaummu?” Ia
menjawab, “Aku berharap semoga ia dipuji di langit dan di bumi.”
Dan Allah telah mengabulkan harapannya itu.
Ada yang mengatakan bahwa yang memberinya nama
Muhammad adalah ibunya sendiri, Aminah. Ibunya didatangi oleh
malaikat. Kemudian malaikat itu berkata kepadanya, “Kamu telah
mengandung seorang pemimpin manusia. Berilah ia nama
Muhammad!”

وإنما أتى بالصلاة في أول كتابه على رسول االله صلى االله عليه وسلّم عملاً بالحديث
القدسي وهو قوله تعالى عبدي لم تشكرني إذا لم تشكر من أجريت النعمة على يديه
ولا شك أنه صلى االله عليه وسلّم الواسطة العظمى لنا في كل نعمة بل هو أصل الإيجاد
لكل مخلوق آدم وغيره وبقوله صلى االله عليه وسلّم من صلى علي في كتاب لم تزل
الملائكة تصلي عليه ما دام اسمي في ذلك الكتاب

Adapun Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi memintakan
sholawat (dan salam) di awal kitabnya kepada Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallama karena mengamalkan hadis Qudsi yang
difirmankan oleh Allah, “Hai hambaku! Kamu belumlah bersyukur
kepada-Ku ketika kamu belum berterima kasih kepada orang yang
Aku mencurahimu kenikmatan melaluinya.” Tidak diragukan lagi
bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah perantara
agung bagi kita dalam setiap kenikmatan yang kita peroleh, bahkan
ia merupakan asal terwujudnya seluruh makhluk, baik dari golongan
anak cucu Adam ataupun yang lainnya. Begitu juga, Syeh Salim bin
Sumair al-Hadromi mengamalkan hadis Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallama, “Barang siapa bersholawat kepadaku di dalam
sebuah kitab maka para malaikat akan selalu bersholawat kepadanya
selama namaku masih ada dalam kitab tersebut.”

قال عبد المعطي السملاوي في معنى هذا الحديث أي من كتب الصلاة وصلى أو قرأ
الصلاة المرسومة في تأليف حافل أو رسالة لم تزل الملائكة تدعو بالبركة أو تستغفر له

Abdul Mu’thi as-Samlawi menjelaskan hadis Barang siapa
bersholawat kepadaku di dalam sebuah kitab ... dst dengan
perkataannya, “Barang siapa menulis sholawat dan mengucapkannya
atau membaca sholawat yang tertulis dalam kitab atau risalah maka
para malaikat akan selalu mendoakan keberkahan untuknya dan
selalu memintakan ampunan untuknya.”

(خاتم النبيين) بفتح التاء وكسرها والكسر أشهر أي طابعهم كما في المصباح فلا نبي
بعده صلى االله عليه وسلّم فهو آخرهم في الوجود باعتبار جسمه في الخارج

Rasulullah adalah seorang rasul [yang menjadi khotimi an- nabiyiin,] Lafadz خاتم ‘dengan dibaca fathah atau kasroh pada huruf
/ت ./Akan tetapi yang paling masyhur adalah dengan kasroh padanya.
Artinya adalah (Rasulullah) yang menjadi penutup para nabi, seperti
yang disebutkan dalam kitab al-Misbah. Oleh karena itu, tidak ada
nabi setelah beliau, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama. 
Ia
adalah penutup para nabi dalam wujudnya dari sudut pandang
jisimnya di dunia nyata. (Sedangkan hakikatnya ia adalah nabi yang
pertama kali, bahkan makhluk yang pertama kali diciptakan).

*Catatan*

_✍️Semua amal ibadah berpotensi diterima dan ditolak Allah kecuali shalawat nabi_

✍️_“Membaca sholawat merupakan bentuk Ibadah yg paling utama dan paling besar pahalanya dan diterima walaupun tanpa guru_

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kitab Kifayatul Atqiya

: وأن جميع الأعمال منها المقبول ومنها المردود إلا الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فإنها مقطوع بقبولها إكراما له صلى الله عليه وسلم وحكى اتفاق العلماء على ذلك 

Artinya, “Semua amal ibadah berpotensi diterima dan ditolak Allah kecuali shalawat nabi صلى الله عليه وسلم karena ibadah shalawat dipastikan penerimaannya sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Ijma’ ulama menghikayatkan masalah ini,”

Kitab “Hasiyah Al Showi ‘Al Al Jalalain hal 287 juz 3 “:
واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Para Ulama telah sepakat atas di wajibkannya membaca Sholawat dan Salam untuk Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, Kemudian mereka berselisih pendapat mengenahi KAPAN Kuwajiban ini harus di lakukan, Menurut Imam Malik cukup satu kali dalam seumur hidup, Menurut Imam Syafi,I wajib di baca pada waktu tasyahhud akhir dalam setiap Sholat Fardlu, menurut Ulama lainnya wajib di baca satu kali dalam setiap majlis. Ada juga ulama yg berpendapat wajib membaca sholawat / salam tersebut setiap kali mendengar Nama Nabi di sebut. Dan ada juga yg mengatakan untuk memperbanyak Sholawat/ Salam tanpa di batasi bilangan tertentu. Secara umum membaca Sholawat kepada Nabi merupekan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak”.

وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و‘لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها

“Membaca sholawat merupakan bentuk Ibadah yg paling utama dan paling besar pahalanya. Sanpai2 sebagian Kaum ‘Arifin mengatakan :

 “Sesungguhnya Sholawat itu bias mengantarkan Pengamalnya untuk Ma’rifat Billah meskipun tanpa guru spiritual (Mursyid) Karena Guru dan Sanadnya Langsung melalui Nabi.
Ingat setiap Sholawat yg di baca seseorang selalu di perlihatkan Kepada Beliau Shollalllahu ‘alihi wa Sallam dan Beliau membalasnya dg doa yg serupa. 

Hal ini berbeda dg Dzikir2 (Selain Sholawat) yg harus melalui Guru Spiritual yg harus sudah mencapai Maqom Ma;rifat.

 Jika tidak demikian maka akan di masuki Syaithon dan pengamalnya tidak akan mendapat manfa;at apapun.

والله اعلم

Ngaji kitab kasyifatu saja 7.

Ngaji kitab kasyifatu saja 7.

(على سيدنا محمد) 
هو أفضل أسمائه صلى االله عليه وسلّم والمسمي له بذلك جده عبد
المطلب في سابع ولادته لموت أبيه قبلها فقيل له لم سميته محمداً وليس من أسماء آبائك
ولا قومك؟ فقال رجوت أن يحمد في السماء والأرض وقد حقق االله رجاءه وقيل
المسمي له بذلك أمه أتاها ملك فقال لها حملت بسيد البشر فسميه محمداً 

Sholawat dan salam semoga tercurahkan [atas pemimpin
kita, Muhammad,] Nama Muhammad adalah nama yang paling
utama baginya, shollallahu ‘alaihi wa sallama. Orang yang
memberinya nama Muhammad adalah kakeknya, Abdul Mutholib,
pada hari ke-tujuh kelahirannya. Alasan mengapa yang memberi
nama adalah Abdul Mutholib karena ayahnya, Abdullah, telah wafat
sebelum kelahirannya. Abdul Mutholib ditanya, “Mengapa kamu
memberinya nama Muhammad padahal nama Muhammad bukanlah
termasuk salah satu dari nama-nama pendahulumu dan kaummu?” Ia
menjawab, “Aku berharap semoga ia dipuji di langit dan di bumi.”
Dan Allah telah mengabulkan harapannya itu.
Ada yang mengatakan bahwa yang memberinya nama
Muhammad adalah ibunya sendiri, Aminah. Ibunya didatangi oleh
malaikat. Kemudian malaikat itu berkata kepadanya, “Kamu telah
mengandung seorang pemimpin manusia. Berilah ia nama
Muhammad!”

وإنما أتى بالصلاة في أول كتابه على رسول االله صلى االله عليه وسلّم عملاً بالحديث
القدسي وهو قوله تعالى عبدي لم تشكرني إذا لم تشكر من أجريت النعمة على يديه
ولا شك أنه صلى االله عليه وسلّم الواسطة العظمى لنا في كل نعمة بل هو أصل الإيجاد
لكل مخلوق آدم وغيره وبقوله صلى االله عليه وسلّم من صلى علي في كتاب لم تزل
الملائكة تصلي عليه ما دام اسمي في ذلك الكتاب

Adapun Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi memintakan
sholawat (dan salam) di awal kitabnya kepada Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallama karena mengamalkan hadis Qudsi yang
difirmankan oleh Allah, “Hai hambaku! Kamu belumlah bersyukur
kepada-Ku ketika kamu belum berterima kasih kepada orang yang
Aku mencurahimu kenikmatan melaluinya.” Tidak diragukan lagi
bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah perantara
agung bagi kita dalam setiap kenikmatan yang kita peroleh, bahkan
ia merupakan asal terwujudnya seluruh makhluk, baik dari golongan
anak cucu Adam ataupun yang lainnya. Begitu juga, Syeh Salim bin
Sumair al-Hadromi mengamalkan hadis Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallama, “Barang siapa bersholawat kepadaku di dalam
sebuah kitab maka para malaikat akan selalu bersholawat kepadanya
selama namaku masih ada dalam kitab tersebut.”

قال عبد المعطي السملاوي في معنى هذا الحديث أي من كتب الصلاة وصلى أو قرأ
الصلاة المرسومة في تأليف حافل أو رسالة لم تزل الملائكة تدعو بالبركة أو تستغفر له

Abdul Mu’thi as-Samlawi menjelaskan hadis Barang siapa
bersholawat kepadaku di dalam sebuah kitab ... dst dengan
perkataannya, “Barang siapa menulis sholawat dan mengucapkannya
atau membaca sholawat yang tertulis dalam kitab atau risalah maka
para malaikat akan selalu mendoakan keberkahan untuknya dan
selalu memintakan ampunan untuknya.”

(خاتم النبيين) بفتح التاء وكسرها والكسر أشهر أي طابعهم كما في المصباح فلا نبي
بعده صلى االله عليه وسلّم فهو آخرهم في الوجود باعتبار جسمه في الخارج

Rasulullah adalah seorang rasul [yang menjadi khotimi an- nabiyiin,] Lafadz خاتم ‘dengan dibaca fathah atau kasroh pada huruf
/ت ./Akan tetapi yang paling masyhur adalah dengan kasroh padanya.
Artinya adalah (Rasulullah) yang menjadi penutup para nabi, seperti
yang disebutkan dalam kitab al-Misbah. Oleh karena itu, tidak ada
nabi setelah beliau, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama. 
Ia
adalah penutup para nabi dalam wujudnya dari sudut pandang
jisimnya di dunia nyata. (Sedangkan hakikatnya ia adalah nabi yang
pertama kali, bahkan makhluk yang pertama kali diciptakan).

*Catatan*

_✍️Semua amal ibadah berpotensi diterima dan ditolak Allah kecuali shalawat nabi_

✍️_“Membaca sholawat merupakan bentuk Ibadah yg paling utama dan paling besar pahalanya dan diterima walaupun tanpa guru_

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam Kitab Kifayatul Atqiya

: وأن جميع الأعمال منها المقبول ومنها المردود إلا الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فإنها مقطوع بقبولها إكراما له صلى الله عليه وسلم وحكى اتفاق العلماء على ذلك 

Artinya, “Semua amal ibadah berpotensi diterima dan ditolak Allah kecuali shalawat nabi صلى الله عليه وسلم karena ibadah shalawat dipastikan penerimaannya sebagai bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Ijma’ ulama menghikayatkan masalah ini,”

Kitab “Hasiyah Al Showi ‘Al Al Jalalain hal 287 juz 3 “:
واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Para Ulama telah sepakat atas di wajibkannya membaca Sholawat dan Salam untuk Baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, Kemudian mereka berselisih pendapat mengenahi KAPAN Kuwajiban ini harus di lakukan, Menurut Imam Malik cukup satu kali dalam seumur hidup, Menurut Imam Syafi,I wajib di baca pada waktu tasyahhud akhir dalam setiap Sholat Fardlu, menurut Ulama lainnya wajib di baca satu kali dalam setiap majlis. Ada juga ulama yg berpendapat wajib membaca sholawat / salam tersebut setiap kali mendengar Nama Nabi di sebut. Dan ada juga yg mengatakan untuk memperbanyak Sholawat/ Salam tanpa di batasi bilangan tertentu. Secara umum membaca Sholawat kepada Nabi merupekan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak”.

وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و‘لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها

“Membaca sholawat merupakan bentuk Ibadah yg paling utama dan paling besar pahalanya. Sanpai2 sebagian Kaum ‘Arifin mengatakan :

 “Sesungguhnya Sholawat itu bias mengantarkan Pengamalnya untuk Ma’rifat Billah meskipun tanpa guru spiritual (Mursyid) Karena Guru dan Sanadnya Langsung melalui Nabi.
Ingat setiap Sholawat yg di baca seseorang selalu di perlihatkan Kepada Beliau Shollalllahu ‘alihi wa Sallam dan Beliau membalasnya dg doa yg serupa. 

Hal ini berbeda dg Dzikir2 (Selain Sholawat) yg harus melalui Guru Spiritual yg harus sudah mencapai Maqom Ma;rifat.

 Jika tidak demikian maka akan di masuki Syaithon dan pengamalnya tidak akan mendapat manfa;at apapun.

والله اعلم

Ngaji kasyifatus saja 6

Pengertian Agama

(وبه) لا بغيره (نستعين) أي نطلب المعونة فتقديم الجار والمجرور لإفادة الاختصاص
(على أمور الدنيا والدين) يطلق الدين لغة على معان كثيرة منها الطاعة والعبادة والجزاء
والحساب وشرعاً على ما شرعه االله على لسان نبيه من الأحكام وسمي ديناً لأننا ندين
له أن نعتقد وننقاد ويسمى أيضاً ملة من حيث إن الملك يمليه أي يلقيه على الرسول
وهو يمليه علينا، ويسمى أيضاً شرعاً وشريعة من حيث إن االله شرعه لنا أي بينه لنا على
لسان النبي صلى االله عليه وسلّم..

[Dengan Allah,] bukan dengan yang lain-Nya, [kami
meminta pertolongan].

 Maksudnya, kami mencari pertolongan
kepada Allah. Mendahulukan susunan jer dan majrur dalam
pernyataan ُْ
به نستعين
 ‘berfungsi untuk mengkhususkan, maksudnya, kami hanya meminta pertolongan kepada Allah [dalam urusan- urusan dunia dan agama.]


Kata الدين
 ‘atau ‘agama’ menurut bahasa memiliki banyak
arti. Di antaranya berarti ketaatan, ibadah, balasan, dan hitungan.
Sedangkan kata ‘الدين ‘menurut syariat adalah hukum-hukum yang
telah disyariatkan oleh Allah melalui lisan nabi-Nya. Kata ‘الدين ‘disebut dengan nama ‘الدين ‘

karena   نعتقد وننقاد
maksudnya karena kita
meyakini dan mengikutinya.

Kata ‘الدين ‘disebut juga dengan nama ملة) ‘millah) dari segi
Merajai Maha Yang Allah, maksudnya
ان الملك يمليه اي يلقيه
 bahwa
menyerahkannya kepada Rasul dan Rasul menyampaikannya kepada
kita. Begitu juga, ‘الدين ‘atau agama disebut juga dengan nama
شرعا dan شريعة
dari segi bahwa Allah telah mensyariatkannya kepada kita,
maksudnya, Allah telah menjelaskannya kepada kita melalui Nabi
Muhammad, shollallahu ‘alaihi wa sallama.


*Makna Sholawat atas Rasulullah*

(وصلى االله) أي زاده االله عطفاً وتعظيماً (وسلم) أي زاده االله تحية عظمى بلغت الدرجة
القصوى
[Semoga Allah merahmati,] maksudnya, semoga Allah
menambahi kasih sayang dan pengagungan untuk Muhammad, [dan
semoga Dia mencurahkan salam,] maksudnya, semoga Allah
menambahi Muhammad penghormatan yang agung yang mencapai
tingkatan yang tertinggi hingga tak terbatas.

(مسألة) قال إسماعيل الحامدي فإن قيل إن الرحمة للنبي حاصلة فطلبها تحصيل الحاصل
فالجواب أن المقصود بصلاتنا عليه طلب رحمة لم تكن فإنه ما من وقت إلا وهناك رحمة
لم تحصل له فلا يزال يترقى في الكمالات إلى ما لا اية له فهو ينتفع بصلاتنا عليه
على الصحيح لكن لا ينبغي أن يقصد المصلي ذلك بل يقصد التوسل إلى ربه في نيل
مقصوده ولا يجوز الدعاء للنبي صلى االله عليه وسلّم بغير الوارد كرحمه االله بل المناسب
واللائق في حق الأنبياء الدعاء بالصلاة والسلام وفي حق الصحابة والتابعين والأولياء
والمشايخ بالترضي وفي حق غيرهم يكفي أي دعاء كان انتهى

(MASALAH) Ismail al-Hamidi berkata, “Apabila ada
pertanyaan, ‘Sesungguhnya rahmat untuk Rasulullah Muhammad
telah terwujud sehingga memintakan rahmat untuknya berarti
memintakan sesuatu yang telah terwujud?’ Maka jawaban untuk
pertanyaan ini adalah ‘Sesungguhnya tujuan memintakan rahmat kita
untuknya adalah memintakan rahmat yang belum terwujud untuknya
karena tiada waktu yang berlalu kecuali selama waktu tersebut ada
rahmat yang belum terwujud untuknya. Oleh karena itu, dengan
permintaan rahmat tersebut, Rasulullah Muhammad selalu naik
dalam kesempurnaan sampai tingkatan yang tidak ada batasnya.’
Rasulullah Muhammad dapat menerima manfaat dari bacaan
sholawat kita untuknya, sebagaimana menurut pendapat yang shohih. Akan tetapi, orang yang bersholawat hendaknya tidak berniat
memberi manfaat sholawat kepada Rasulullah Muhammad,
melainkan hendaknya ia berniat menjadikan Rasulullah Muhammad
sebagai perantara kepada Allah dalam memperoleh apa yang
diinginkan oleh orang yang bersholawat tersebut. Tidak
diperbolehkan mendoakan Rasulullah Muhammad dengan kalimat
doa yang tidak dijelaskan oleh al-Quran ataupun Hadis, seperti
kalimat doa 

رحمه الله) ‘Semoga Allah merahmatinya). Akan tetapi, yang
pantas dan yang layak bagi hak para nabi adalah mendoakan mereka

الصلاة والسلام ’ atau

’ صلى االله عليه وسلم’
 
seperti, salam dan sholawat dengan
.‘Bagi hak para sahabat, tabiin, para wali, dan para syeh adalah
mendoakan mereka dengan kalimat
 رضي الله عنه
Bagi hak selain
mereka semua adalah mendoakannya dengan bentuk kalimat doa apa
saja.”

Catatan

✍️(sesungguhnya agama (yang di ridhoi) disisi Allah itu adalah Islam". Lihat Tafsir Jalalain :

تفسير الآية رقم [19] من سورة [آل عمران]
«إن الدين» المرضي «عند الله» هو «الإسلام» أي الشرع المبعوث به الرسل المبنى على التوحيد وفي قراءة بفتح أن بدل من أنه الخ بدل اشتمال «وما اختلف الذين أوتوا الكتاب» اليهود والنصارى في الدين بأن وحَّد بعضٌ وكفر بعضٌ «إلا من بعد ما جاءهم العلم» بالتوحيد «بغيا» من الكافرين «بينهم ومن يكفر بآيات الله» «فإن الله سريع الحساب» أي المجازاة له.

Lihat kitab tafsir al baghowi untuk surat ali imron ayat 19 :

( إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ) يَعْنِي الدِّينَ الْمَرْضِيَّ الصَّحِيحَ ، كَمَا قَالَ تَعَالَى : " وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا " ( 3 - الْمَائِدَةِ ) وَقَالَ " وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ " ( 85 - آلِ عِمْرَانَ )

Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah islam, maksudnya adalah agama yang diridhoi dan YANG BENAR sebagaimana firman Allah dalam surat al maidah ayat 3 " dan aku ridho islam sebagai agama kalian "dan surat ali imran ayat 85 " barang siapa yang mencari agama selain islam maka tidak diterima darinya ". 

يستحب الترضي والترحم على الصحابة والتابعين فمن بعدهم ‏من العلماء والعباد وسائر الأخيار، فيقال: رضي الله عنه، أو رحمة الله عليه، أو رحمه الله ‏ونحو ذلك. وأما ما قاله بعض العلماء: إن قول رضي الله عنه مخصوص بالصحابة ويقال في ‏غيرهم رحمه الله فقط، فليس كما قال ولا يوافق عليه، بل الصحيح الذي عليه الجمهور ‏استحبابه، 
ودلائله أكثر من أن تحصر

✍️ Artinya : “Disunatkan
 mengucap taradhi dan tarahhum atas para sahabat dan tabiin dan mereka yang kemudian selepas mereka daripada para ulama dan sekelian orang-orang pilihan. Maka diucapkan رضي الله عنه artinya semuga Allah meredhai daripadanya atau رحمة الله عليه artinya semuga rahmat Allah atasnya atau رحمه الله artinya telah merahmat akan beliau olih Allah dan yang seumpama demikian itu.

 Dan ada pun perkataan setengah ulamak bahawa ucapan taradhi رضي الله عنه hanya tertentu dengan para sahabat dan pada selain mereka hanya disebut ucapan tarahhum رحمه الله maka bukan sebenarnya seperti itu.

 Dan tidak sepakat ulamak atas yang demikian itu. Bahkan pendapat yang sahih yang berjalan atasnya olih jumhur ulamak ialah disunatkan taradhi atas selain para sahabat. Dan dalil-dalilnya tersangat banyak untuk dihitung.” 

(Kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazzab) 

والله اعلم

Sabtu, 06 Agustus 2022

MEMAKNAI HIJRAH

 Istilah hijrah yang dipakai sebagai tren sekarang ini tidak tepat sebab istilah yang tepat adalah taubat. Asalnya tidak shalat lalu berubah tekun shalat, asalnya mengumbar aurat lalu menutup aurat, asalnya suka dugem lalu berhenti diganti suka ngaji, dan sebagainya, itu istilah resminya adalah taubat. Bila taubatnya serius, maka disebut taubat nasuha.

Berbicara tentang Hijrah saya ingatkan ini ulasan panjang sebab membahas perubahan makna hijrah sejak awal kemunculannya di era klasik hingga bentuknya di masa modern.

A. Makna Hijrah Dalam Istilah Klasik

1. Makna Hijrah yang asal adalah perpindahan Rasulullah dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Muslim yang berhijrah disebut sebagai Muhajir. Hijrah dalam makna ini telah berakhir sehingga Nabi bersabda: "Tidak ada hijrah lagi setelah penaklukan kota Makkah", maksudnya kaum muslimin saat itu tidak akan diperintah pindah ke tempat lain lagi. Akan tetapi hukum hijrah dari negara yang membuat seorang muslim tidak dapat menjalankan ibadah ke negara lain yang kondusif tetap berlaku. Ini sebenarnya bukan bahasan kita meskipun makna hijrah ini tetap berlaku pada makna selanjutnya sebab ini adalah makna hijrah yang paling asal dan digunakan dalam peristilahan hijrah secara umum. Dari makna ini pula muncul kalender hijriah yang hitungannya dimulai sejak hijrahnya Rasulullah ke Madinah itu. 

2. Hijrah dalam arti yang lebih luas. Dalam hal ini Nabi bersabda:

«المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ ‌مَنْ ‌هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ» (بخاري)
"Muslim adalah pribadi yang mana kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah". (Bukhari)

Hadis inilah yang dinukil netizen untuk mengkritik apa yang saya tulis sebelumnya. Mari kita cermati redaksi hadis ini baik-baik di mana Nabi Muhammad membahas dua istilah, yakni istilah "muslim" dan istilah "muhajir" (orang yang hijrah). Dalam redaksi ini, beliau mengartikan muslim adalah orang yang baik yang tak menyakiti muslim lainnya. Lalu apakah yang berbuat jahat bukan muslim? Tentu masih muslim. Kemudian muhajir adalah yang meninggalkan maksiat, apakah para sahabat yang pindah dari makkah ke madinah bersama beliau lalu bermaksiat bukan muhajir? tentu masih disebut muhajir. 

Lalu bagaimana maksudnya? Maksudnya, Nabi sedang memberitahu kondisi ideal/sempurna dari pribadi seorang muslim dan seorang muhajir (orang yang hijrah dari makkah ke madinah). Jangan sampai hanya baca syahadat masuk islam tapi masih suka zalim pada orang lain sebab itu bukan muslim ideal; Jangan sampai sesudah hijrah dari madinah ke makkah masih saja melakukan maksiat sebab itu bukan muhajir yang paripurna. Jadi konteksnya adalah nabi mengajak para sahabatnya menjadi pribadi yang ideal, tidak sekedar masuk islam dan tidak sekedar pindah tempat dari makkah ke madinah saja.

Syaikh Ibnu Baththal dalam syarah Bukharinya menjelaskan makna ini sebagai berikut:

«شرح صحيح البخارى لابن بطال» (10/ 195):
«وقوله: (‌المهاجر ‌من ‌هجر ما نهى الله عنه) يعنى المهاجر التام الهجرة من هجر المحارم»
"Sabda Nabi Muhammad "Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah" maksudnya adalah Muhajir yang sempurna hijrahnya adalah orang yang meninggalkan hal yang diharamkan".

Pemaknaan ini sesuai dengan kaidah yang disampaikan oleh al-Hafidz Badruddin al-Aini ketika mengomentari hadis tersebut. Beliau menjelaskan:

«عمدة القاري شرح صحيح البخاري» (1/ 133):
«وَذَلِكَ لِأَن الْجِنْس إِذا أطلق يكون مَحْمُولا على ‌الْكَامِل»
"Hal itu karena apabila suatu jenis disebut tanpa embel-embel, maka konteksnya adalah yang sempurna/ideal".

Ini adalah konteks asli hadis tersebut, yakni untuk memberi standar yang lebih tinggi bagi kaum muslimin dan muhajirin saat itu. Dengan demikian sebenarnya tidak ada kaitannya antara hadis tersebut dengan pembahasan saya yang mengkritik makna hijrah di masa kini. 

Lalu apakah tidak memungkinkan makna muhajir (orang yang hijrah) di sini diperluas lagi tidak hanya untuk para sahabat muhajirin tapi untuk semua muslimin yang ada di setiap masa? Jawabannya adalah: Bisa, beberapa ulama melakukannya.

Kata hijrah sendiri berasal dari akar kata "hajara" yang berarti meninggalkan. Syaikh Syamsuddin al-Birmawi menjelaskan:

«اللامع الصبيح بشرح الجامع الصحيح» (1/ 135):
«(وَالْمُهَاجِرُ) من الهَجْر، وهو التَّرْك»
"Muhajir adalah orang yang melakukan hajr, yakni meninggalkan sesuatu"

Kemudian al-Birmawi menyebutkan kemungkinan tafsiran lain (qil) dari yang saya sebutkan di atas yang menjelaskan asal-usul hadis tersebut sebagai berikut:

«اللامع الصبيح بشرح الجامع الصحيح» (1/ 136):
«وقيل لمَّا شَقَّ فَواتُ الهِجْرة على بعضهم قيل المُهاجرُ (مَنْ هَجَرَ مَا نهى اللَّهُ عَنْهُ). ويحتمل أنَّه قال ذلك بعد الفتْح، فإنَّه لا هجرةَ حينئذٍ إلا هجْرة المعاصي»

"Konon, ketika sebagian sahabat merasa sedih karena tertinggal dari hijrah, maka Nabi Muhammad bersabda: "Muhajir adalah siapa pun yang meninggalkan maksiat", kemungkinan ini terjadi setelah fathu makkah sebab saat itu tidak ada hirjah lain kecuali meninggalkan maksiat".

Dengan mengikuti pendapat lain (qil) tersebut, kita tahu bahwa makna muhajir diperluas pada seluruh kaum muslimin yang meninggalkan maksiat, bukan hanya untuk yang meninggalkan Makkah menuju Madinah. Karena itu, dalam hadis lain Nabi menekankan para sahabat agar menjaga aturan syariat di rumah mereka masing-masing.

«الاستذكار» (7/ 277):
«أَقِمِ الصَّلَاةَ وَآتِ الزَّكَاةَ وَمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَاجْتَنِبْ مَا نَهَاكَ عَنْهُ وَاسْكُنْ مِنْ أَرْضِ قَوْمِكَ حَيْثُ شِئْتَ)»
"Dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan apa yang diwajibkan padamu dan jauhi apa yang dilarang Allah dan tinggallah engkau di negeri kaummu sendiri semaumu". 

Makna perluasan inilah yang barangkali menjadi rujukan awal istilah hijrah yang menjadi tren di masa modern. Ini juga yang dijadikan dasar oleh netizen untuk menganggap paparan saya dalam artikel sebelumnya keliru. Sebelum kita bahas apa yang saya maksud dengan istilah hijrah di masa modern, perlu kiranya saya sebutkan beberapa nukilan sebagian ulama yang memaknai istilah hijrah sama seperti taubat agar para pembaca tidak repot-repot lagi mencari nukilan semacam ini. 

Ibnu al-Malak mengartikan Hijrah menjadi tiga makna sebagai berikut:

«شرح المصابيح لابن الملك» (4/ 261):
«"والهجرة"؛ أي: بالانتقال من مكة إلى المدينة قبل فتح مكة، ومن دار الكفر إلى دار الإسلام بعد الإسلام، ومن المعصية إلى التوبة»

"Hijrah adalah berpindah dari Makkah ke Madinah sebelum penaklukan kota Makkah, dan dari negeri kafir ke negeri islam setelah berkuasanya Islam, dan dari maksiat menuju taubat".

Al-Qasthalani juga berkata senada itu berkata

«شرح القسطلاني = إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري» (1/ 56):
«وفي الحقيقة هي مفارقة ما يكرهه الله تعالى إلى ما يحبه»
"Secara hakikat, hijrah adalah berpisah ari apa yang dibenci Allah pada apa yang dicintainya"

«مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح» (1/ 46):
«وَكَذَا الْهِجْرَةُ مِنَ الْمَعَاصِي ثَابِتَةٌ»
"Demikian pula hijrah dari maksiat benar adanya"

Ada beberapa ulama lain yang berkata senada, tapi saya rasa tidak perlu saya nukil semuanya. Di titik ini para netizen yang menganggap istilah hijrah sama dengan taubat akan menemukan justifikasi kebenarannya. Akan tetapi sekali lagi kita perlu konsisten dan cermat dalam memakai makna ini, jangan sampai memakai standar ganda.

Bila saya tanya apakah seorang pria muda yang sehari-hari dia memakai celana panjang standar orang Indonesia (sampai mata kaki atau di bawahnya) dengan mengikuti fatwa mazhab Syafi'i bahwa isbal tidak haram selama pelakunya tidak berniat sombong, kemudian lelaki tersebut juga mencukur habis jenggotnya sebab dia ikut Mazhab Syafi'i yang tidak mengharamkan mencukur jenggot, apakah pria ini disebut sebagai pemuda hijrah? Kemungkinan besar jawabannya tidak termasuk pemuda hijrah dan tidak bisa masuk komunitas hijrah, meskipun dia pria baik yang telah menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Demikian pula ketika saya tanya, apakah sosok semisal Gus Baha', Habib Qurasiy Shihab dan Para Kyai NU yang khas dengan sarungnya dikenal sebagai Ustadz Hijrah? Jawabannya adalah tidak, meskipun mereka semua istiqamah dalam kesalehan dan meninggalkan kemaksiatan sesuai dengan hadis Nabi di atas. 

Memang benar, bahwa kata hijrah mengalami perluasan makna hingga salah satu maknanya semakna dengan taubat, tetapi makna ini berlaku umum bagi semua muslim dengan ciri-ciri tersebut, tidak hanya bagi komunitas tertentu dengan ciri khas tertentu. Kalau konsisten menggunakan makna ini seharusnya dalam semua contoh saya di atas orang-orangnya disebut muhajir atau orang yang berhijrah. Saya pun seharusnya disebut sebagai orang yang hijrah, tapi kan tidak demikian kenyataan di lapangan sekarang. Di sinilah poin kritik saya pada istilah hijrah di masa modern yang saya sebut sebagai bid'ah sebab tidak sama lagi dengan makna yang dipakai di masa lalu.

B. Makna Hijrah Dalam Istilah Modern

Perluasan makna kata hijrah yang dibahas di bagian sebelumnya oleh para ulama telah mengalami penyempitan makna sedemikian rupa di masa modern sekarang ini. Bila anda mengetik di google dengan kata kunci "ustadz hijrah", "pemuda hijrah", "artis hijrah" dan sebagainya, maka akan muncul sederet panjang berita dan gambar tentang komunitas yang mempopulerkan makna baru ini. Orangnya itu-itu saja dan komunitasnya itu-itu saja dan pemahamannya ya itu-itu juga. Istilah hijrah ini sama sekali tidak berlaku untuk semua orang yang bertaubat, tapi untuk komunitas mereka yang sepemikiran dengan mereka. 

Bisa dibilang bahwa kata hijrah telah berubah menjadi semacam "merek dagang" bagi komunitas tertentu. Berbagai jenis profesi dan hobby bisa diberi embel-embel hijrah oleh pemegang merek ini, misalnya artis hijrah, dokter hijrah, biker hijrah dan sebagainya.  Bahkan ada pula kampung hijrah.

Di antara ciri paling menyolok dari para pembawa istilah hijrah dalam makna sempit ini adalah berjenggot panjang dan cingkrang bagi laki-laki. Jangan memberi saya dalil tentang memelihara jenggot dan cingkrang pada saya sebab saya sangat tahu itu semua adalah bagian dari keutamaan. Namun menjadikan kedua sunnah ini sebagai identitas hijrah adalah hal yang tidak dikenal dalam sejarah islam di masa lalu. Adanya hanya di masa modern ini. Inilah yang saya kritik sebagai bid'ah. Tentu saya sendiri meyakini bid'ah ada dua, yakni hasanah dan sayyi'ah sedangkan fenomena orang taubat adalah jelas masuk pada yang hasanah. Hanya saja kita tahu komunitas tersebut menolak keras pembagian bid'ah semacam ini sehingga saya paham kenapa mereka tidak akan suka ketika hal baru ini saya sebut bid'ah. 

Masalah lainnya bukan hanya sekedar pada perubahan tampilan sebab sebenarnya itu positif, tetapi pada tingkah laku. Banyak dari kita yang tahu di antara mereka yang ketika bertaubat malah merasa paling benar sendiri dan berani mengkritik tradisi islami yang sudah turun temurun sebagai tradisi bid'ah. Meskipun baru "hijrah", tidak berat lisan mereka memasuki area ikhtilaf lalu latah memberikan vonis padahal secara keilmuan seharusnya itu belum layak mereka lakukan. Tentu tidak semua orang yang memakai "merek" hijrah demikian, tapi karena ini adalah tulisan kritik pada perilaku negatif maka ciri negatif ini yang ditampilkan tanpa bermaksud menggeneralisir pada semua orang.

Inilah yang menjadi latar belakang kenapa saya menganjurkan untuk memakai istilah standar saja bagi orang yang berubah dari maksiat menuju taat, yakni istilah taubat. Ada pun istilah hijrah meskipun dulu juga dipakai untuk makna serupa tetapi ia telah mengalami penyempitan makna yang tidak dikenal di masa lalu.

Semoga bermanfaat.

Senin, 25 Juli 2022

Ngaji kitab kasyifatu saja 5




Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Basmalah.

واختلف في البسملة هل هي آية من الفاتحة ومن كل سورة فعند مالك  انها ليست آية
من الفاتحة ولا من كل سورة وعند عبد االله بن المبارك أنها  آية من كل سورة وعند
الشافعي أنها  آية من الفاتحة وتردد في غيرها ولم يختلفوا فيها في النمل في عدها من
القرآن

Masalah basmalah telah diperselisihkan oleh ulama tentang
apakah basmalah termasuk salah satu ayat dari al-Fatihah dan
apakah termasuk salah satu ayat dari setiap Surat dalam al-Quran?
 Menurut Imam Malik, basmalah tidak termasuk salah satu ayat
dari al-Fatihah dan juga tidak termasuk salah satu ayat dari setiap
Surat dalam al-Quran.
 Menurut Abdullah bin Mubarok, basmalah termasuk salah satu
ayat dari setiap Surat dalam al-Quran.
 Menurut Imam Syafii, basmalah termasuk salah satu ayat dari al- Fatihah dan masih belum jelas dalam hal apakah termasuk ayat
dari setiap Surat dalam al-Quran atau bukan termasuk darinya.
Sedangkan ulama tidak berselisih pendapat mengenai basmalah
dalam Surat an-Naml. Mereka bersepakat bahwa basmalah dalam
Surat an-Naml termasuk dari al-Quran.

ومن خواصها إذا تلاها شخص عند النوم إحدى وعشرين مرة أمن تلك الليلة من
الشيطان وأمن بيته من السرقة وأمن من موت الفجأة وغير ذلك من البلايا أفاده أحمد
الصاوي

Termasuk salah satu keistimewaan basmalah adalah ketika
seseorang membacanya saat hendak tidur sebanyak 21 kali maka
pada malam itu ia aman dari gangguan setan dan rumahnya aman
dari pencurian, dan ia selamat dari mati secara mengagetkan dan
mara bahaya lainnya. Demikian ini disebutkan oleh Ahmad Showi.


Anjuran Mengawali Sesuatu dengan Hamdalah

(الحمد) أي الثناء بالكلام على الجميل الاختياري مع جهة التبجيل والتعظيم سواء كان
في مقابلة نعمة أم لا مستحق (الله) وهذا هو الحمد اللغوي الذي طلبت البداءة به، وأما
الحمد الاصطلاحي فلا يطلب البداءة به وهو فعل يدل على تعظيم المنعم من حيث
كونه منعماً على الحامد أو غيره سواء كان ذلك قولاً باللسان أو اعتقاداً بالجنان أو
عملاً بالأركان التي هي الأعضاء (رب) أي مصلح (العالمين)
 
[Segala pujian] atau
الحمد,‘maksudnya, memuji dengan
pernyataan lisan kepada Dzat Allah (atau sifat-Nya), baik secara
hakikat atau hukum, disertai mengagungkan dan memuliakan, baik
pujian tersebut sebagai perbandingan atas nikmat atau tidak, adalah
hak [bagi Allah]. Pengertian pujian tersebut adalah pengertian secara
bahasa yang memang dianjurkan untuk mengawali sesuatu
dengannya. Adapun pujian menurut pengertian istilah maka tidak
dianjurkan untuk mengawali sesuatu dengannya, karena pengertian

“pujian الحمد
 menurut istilah adalah perbuatan yang menunjukkan
sikap mengagungkan atau memuliakan pihak yang memberi nikmat
dari segi bahwa pihak yang memberi nikmat tersebut adalah pihak
yang memberi nikmat kepada orang yang memuji atau kepada yang
lainnya, baik perbuatan tersebut bersifat ucapan lisan, atau bersifat
keyakinan hati, atau bersifat aksi dengan anggota-anggota tubuh
.
لما افتتح بالبسملة افتتاحاً حقيقياً افتتح بالحمدلة افتتاحاً إضافياً جمعاً بين حديثي 

.[ seluruh yang Mengatur alam adalah Allah]

البسملة والحمدلة واقتداء بالكتاب أيضاً وعملاً بحديث ابن ماجه كل أمر ذي بال لا
يبدأ فيه بالحمد الله فهو أجذم وفي رواية فهو أقطع وفي رواية فهو أبتر والمعنى على كل
مقطوع البركة وناقصها وقليلها

Ketika Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi telah mengawali
pembukaan kitabnya dengan basmalah, yaitu dengan bentuk
pembukaan haqiqi (ibtidak haqiqi), maka ia juga membukanya
dengan hamdalah dengan bentuk pembukaan idhofi (ibtidak idhofi),
dengan tujuan mengamalkan secara bersamaan dua hadis yang
menjelaskan tentang anjuran pembukaan dengan basmalah dan
hamdalah, dan karena meniru al-Quran, dan karena mengamalkan
hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, “Setiap perkara yang
memiliki kemuliaan atau keagungan menurut syariat yang karenanya
tidak diawali dengan

 الحمد لله

‘maka perkara tersebut adalah ajdzam.”
Dalam satu riwayat disebutkan, “... maka perkara tersebut adalah
aqthok.” Dalam satu riwayat disebutkan, “... maka perkara tersebut
adalah abtar.” Arti masing-masing dari tiga riwayat tersebut adalah
bahwa perkara tersebut kurang barokah atau sedikit barokah.

قال النووي رحمه االله تعالى يستحب الحمد في ابتداء الكتب المصنفة وكذا في ابتداء
دروس المدرسين وقراءة الطالبين بين يدي المعلمين سواء قرأ حديثاً أو فقهاً أو غيرهما
وأحسن العبارات في ذلك الحمد الله رب العالمين

Syeh Nawawi rahimahullah berkata, “Disunahkan memuji
Allah dalam mengawali kitab-kitab yang disusun. Begitu juga, memuji Allah disunahkan dalam mengawali pelajaran bagi para guru
dan dalam mengawali membaca atau sorogan bagi para santri di
hadapan para guru, baik membaca Fan Hadis, Fiqih, atau yang
lainnya.” Memuji Allah yang paling baik adalah dengan pernyataan.

الحمد الله رب العالمين

وقال بعض الشافعية أفضل المحامد أن يقال الحمد الله حمداً يوافي نعمه ويكافىء مزيده
وقيل أفضل المحامد أن يقال الحمد الله بجميع محامده كلها ما علمت منها وما لم أعلم
زاد بعضهم عدد خلقه كلهم ما علمت منهم وما لم أعلم

Sebagian ulama yang bermadzhab Syafii berkata, “Memuji
Allah yang paling utama adalah dengan ibarot;

اَلحَْمْدُ اللهِ حمَْداً يـُوَافيِ نِعَمَهُ وَيُكَافىِ ءُ مَزِيْدَهُ 

Ada yang mengatakan, “Yang paling utama dalam memuji
Allah adalah mengatakan;

اَلحَْمْدُ اللهِ بجَِمِيْعِ محََامِدِهِ كُلِّهَا مَا عَلِمْتُ مِنـْهَا وَمَا لمَْ أَعْلَمْ 

Sebagian ulama lain menambahkan menjadi;

اَلحَْمْدُ اللهِ بجَِمِيْعِ محََامِدِهِ كُلِّهَا مَا عَلِمْتُ مِنـْهَا وَمَا لمَْ أَعْلَمْ عَدَدَ خَلْقِهِ كُلِّهِمْ مَا عَلِمْتُ 
مِنـْهُمْ وَمَا لمَْ أَعْلَمْ 
وفي خبر ابن ماجه عن عائشة كان رسول االله صلى االله عليه وسلّم إذا رأى ما يحب
قال الحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحات وإذا رأى ما يكره قال الحمد الله على كل
حال رب إني أعوذ بك من حال أهل النار

Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dari Aisyah, “Ketika Rasulullah, shollallahu ‘alaihi wa sallama,
melihat sesuatu yang beliau sukai, maka beliau berkata;

اَلحَْمْدُ اللهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالحَِاتُ 

Dan ketika beliau melihat sesuatu yang beliau tidak sukai
maka beliau berkata;

اَلحَْمْدُ اللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ رَبِّ إِنيِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ

Catatan.

Awali setiap do'a dengan teks seperti ini jangan suka ngarang sendiri.

 اﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﺣﻤﺪا ﻛﺜﻴﺮا ﻃﻴﺒﺎ ﻣﺒﺎﺭﻛﺎ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻛﺤﺎﻝ، ﺣﻤﺪا ﻳﻮاﻓﻲ ﻧﻌﻤﻪ ﻭﻳﻜﺎﻓﺊ ﻣﺰﻳﺪﻩ.
ﻳﺎ ﺭﺑﻨﺎ ﻟﻚ اﻟﺤﻤﺪ ﻛﻤﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﺠﻼﻝ ﻭﺟﻬﻚ ﻭﻋﻈﻴﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﻚ، ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ ﻻ ﻧﺤﺼﻲ ﺛﻨﺎء ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻧﺖ ﻛﻤﺎ ﺃﺛﻨﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻚ.

Di lanjutkan sholawat,
do'a hajat dunia dan akhirat yang baik yang warid .

فصل يستحب ان يختم دعاءه بالحمد لله رب العالمين وكذلك يبتدئه بالحمد لله قال الله تعالى وَءَاخِرُ دَعۡوَىٰهُمۡ أَنِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٠ واما ابتداء الدعاء بحمد الله وتمجيده 

(Pasal) Disunnahkan menutup doa dengan kalimat “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”. Begitu juga saat memulai berdoa. Allah berfirman, “Dan penutup doa mereka adalah, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”. (QS. Yunus: 10)

Adapun permulaan doa dengan memuji Allah, 

فصل يستحب حمد الله تعالى عند حصول نعمة او اندفاع مكروه سواء حصل ذلك لنفسه او لصاحبه او للمسلمين

(Pasal) Disunnahkan mengucapkan hamdalah saat memperoleh nikmat atau dihindarkan dari  bala’, baik dirinya sendiri atau bagi orang muslim lainnya.



قال بعض العارفين الحمد لله ثمانية احرف كأبواب الجنة فمن قالها عن صفاء قلب استحق أن يدخل الجنة من أيها شاء

“Sebagian Ulama ahli makrifat berkata; alhamdulillah itu ada 8 huruf sebagaimana pintu-pintu surga. Barangsiapa mengucapkan alhamdulillah dengan ikhlas maka dia berhak masuk surga dari pintu mana yang dia kehendaki

والله اعلم

Ngaji kitab kasyifatusaja 4.



وعملاً بحديث أبي داود وغيره كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم االله الرحمن الرحيم فهو .
أبتر أو أقطع أو أجذم والبال الشرف والعظمة أو الحال والشأن الذي يهتم به شرعاً

ومعنى الاهتمام به طلبه أو إباحته بأن لا يكون محرماً لذاته ولا مكروهاً لذاته لكن لا
تطلب البسملة على محقرات الأمور ككنس زبل ولا تطلب للذكر المحض كالتهليل


Begitu juga, Syeh Salim bin Sumair mengawali kitabnya
dengan basmalah karena mengamalkan hadis yang diriwayatkan oleh
Abu Daud dan lainnya, yaitu;

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم االله الرحمن الرحيم فهو .
أبتر أو أقطع أو أجذم..

Artinya: Setiap perkara yang baik menurut syariat yang karenanya
tidak diawali dengan,

بسم الله الرحمن الرحيم  ‘maka perkara tersebut adalah
abtar, atau aqtok, atau ajdzam. Kata 
البال “dalam hadis di atas berarti kemuliaan, keagungan,
keadaan, dan keadaan yang dinilai penting oleh Syariat. Sedangkan
pengertian “dinilai penting oleh Syariat” adalah perkara yang
dianjurkan atau diperbolehkan oleh syariat, sekiranya perkara itu
tidak diharamkan karena dzatnya dan tidak dimakruhkan karena
dzatnya. Oleh karena itu, basmalah tidak dianjurkan dalam perkara- perkara yang remeh atau hina, seperti menyapu kotoran hewan, dan
tidak dianjurkan dalam dzikir yang murni (mahdoh), seperti dzikir
Laa Ilaha Illa Allah.

وقال الشيخ عميرة والبال أيضاً القلب كأن الأمر لشرفه وعظمه ملك قلب صاحبه
لاشتغاله به وفي قوله فيه للسببية على قياس قوله صلى الله عليه وسلّم دخلت امرأة النار
في هرة أي بسببها حبستها وهي امرأة من بني إسرائيل

Syeh Umairah berkata, lafadz ‘البال ‘juga bisa berarti ‘القلب ‘atau hati. Oleh karena itu, seolah-olah perkara tersebut, karena
kemuliaan dan keagungannya, telah menguasai hati orang yang
melakukan perkara tersebut karena hatinya tengah dihadapkan
dengan dan difokuskan pada perkara itu.

Lafadz ‘فى ‘dalam sabda Rasulullah ‘فيه ‘di atas memiliki arti
sababiah berdasarkan pengqiasan dengan sabda beliau;

دخلت امرأة النار

“Seorang wanita masuk ke dalam neraka sebab kucing [yang ia
kekang dan tidak diberinya makan].” Wanita tersebut berasal dari
Bani Israil.

والأبتر مقطوع الذنب والأقطع من قطعت يداه أو إحداهما والأجذم بالذال المعجمة
المقطوع اليد وقيل الذاهب الأنامل وقال البراوي هو علة معروفة فهو من باب التشبيه
البليغ

Lafadz ‘الأبتر ‘berarti yang terpotong ekornya. Lafadz ‘الأقطع ‘berarti orang yang terpotong kedua tangannya atau salah satu dari
keduanya. Lafadz ‘الأجذم ‘dengan huruf /ذ /yang bertitik satu berarti
yang terpotong tangannya. Ada yang mengatakan lafadz ‘الأجذم ‘berarti yang hilang jari-jarinya. Al-Barowi berkata, “Ajdzam adalah
sebuah penyakit tertentu yang sudah terkenal.” Dalam hadis Kullu
Amrin ...dst di atas mengandung susunan tasybih al-baligh.

ومعنى الحديث كل شيء له شرف وعظمة أو كل شيء يطلب أو يباح أو كل شيء له
قلب أي يملك قلباً لا يبدأ بسبب ذلك الشيء ببسم االله الرحمن الرحيم فهو كالحيوان
المقطوع الذنب أو كمن قطعت يداه أو كمن ذهبت أنامله أو كمن به جذام في نقصه
وعيبه شرعاً وإن تم حساً 

Arti hadis di atas adalah “Setiap perkara yang memiliki
kemuliaan atau keagungan, atau setiap perkara yang dianjurkan
dilakukan atau yang diperbolehkan dilakukan atau setiap perkara
yang memiliki hati, yang sebab perkara tersebut tidak diawali dengan

بسم الله الرحمن الرحيم
 ‘maka perkara tersebut adalah seperti hewan yang
terpotong ekornya, atau seperti manusia yang terpotong kedua
tangannya, atau seperti manusia yang hilang jari-jarinya, atau seperti
manusia yang mengidap penyakit kusta, dalam artian bahwa perkara
tersebut memiliki kekurangan dan cacat menurut syariat meskipun
secara dzohir atau nampaknya, perkara tersebut telah terselesaikan.

*Catatan*

Membaca basmalah ada yang sunah
bahkan haram
dan tidak sunah

1️⃣ Membaca basmalah sebelum membaca Al-Qur'an hukumnya sunnah

ـ (فرع) تُسنّ التسميةُ لتلاوَةِ القرآنِ، ولو مِن أثناءِ سُورَةٍ في صلاةٍ أو خارِجِها، ولِغُسْلٍ وَتيمم وذَبْح ـ اهـ فتح المعين ص ٥١

Cabang : Disunnahkan membaca basmalah untuk tujuan membaca Al-Qur'an walaupun ketika ditengah tengah membaca surah Al-Qur'an di dalam sholat maupun diluar sholat, begitu juga disunnahkan membaca basmalah untuk tujuan mandi, tayammum, maupun menyembelih binatang 
Fathul Mu'in halaman 51

2️⃣Baca BASMALAH itu  terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)

قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج

Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh..
Hawasyi Assyarwaani wa al ‘ubaady II36

كتاب نهاية القول المفيد :

وليحافظ على قراءة البسملة أول كل سورة غير براءة، لأن أكثر العلماء على أنها آية، فإذا أخل بها كان تاركاً لبعض الختمة عند الأكثرين أما في الإبتداء بما بعد أوائل السور ولو بكلمة فتجوز البسملة وعدمها لكل من القراء تخييرا 

Kitab Nihayah Qoul Al-Mufid
Dan jagalah dengan benar benar untuk membaca basmallah di awal setiap surat selain surat baro'ah, karena kebanyakan ulama' berpendapat bahwa basmallah termasuk ayatnya surat, ketika basmallah tidak dibaca di awal surat maka dia termasuk orang yang meninggalkan sebagian yang sempurna menurut kebanyakan ulama'
Adapun membaca basmallah dalam permulaan yang setelah awal surat walaupun satu kalimat maka hukumnya boleh , tidak membaca basmallah  juga boleh, hal itu TERSERAH bagi pembacanya



(فَصْلٌ) السُّنَّةُأَنَّ الْمُسْلِمَ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ قَبْلَ كُلِّ كَلاَمٍ ِلأَنَّهُ تَحِيَّةٌ يَبْدَأُ بِهِ فَيَفُوْتُ بِاْلإِفْتِتَاحِ بِالْكَلاَمِ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ.

3️⃣PASAL
Yang sunah orang salam itu mulainya sebelum bicara apa-apa …
Salam adalah sebelum berbicara. Karena salam adalah penghormatan yang dibuat permulaan. Sunahnya tidak ada jika sudah dimulai dengan bicara dahulu. Seperti sunahnya tahuyatul masjid, sebelum melakukan apa-apa"
Al-Adzkar An-Nawawi I/168

Hukum membaca bismillah sebelum salam adalah tidak sunah untuk dijawab, alasanya hukum sunahnya memulai sesuatu dengan mengucapkan bismillah sebagaimana dalam hadits كلّ أمر ذى بال إلخ itu berlaku kalau memang perkaranya bukan dzikir yang murni sebagaimana bacaan ayat al-Qur’an yang dibuat dzikir sehingga kalau nanti perkara itu adalah asalnya untuk dzikir maka tidak sunah memulainya dengan bacaan bismillah padahal mengucapkan salam itu asalnya memang untuk dzikir oleh karenanya kalau didahului dengan bacaan bismillah maka itu termasuk mendahului dengan kalam yang punya pengaruh hukum tidak sunah dijawab.

Dengan ibarot sebagai berikut :

ومنها أن يبدأ كل مسلم منهم بالسلام قبل الكلام ويصافحه عند السلام قال النبى من بدأ بالكلام قبل السلام فلا تجيبوه حتى يبدأ بالسلام .اهـ إحياء علوم الدين الجزء الثانى ص 200 باب حقوق المسلم

والمراد بالأمر ما يعم القول كالقرأة والفعل كالتأليف, ومعنى ذى بال أى صاحب حال بحيث يهتم به شرعا أى بأن لا يكون من سفاسف الأمور وليس محرما ولا مكروها. ويشترط أيضا أن لا يكون ذكرا محضا ولا جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة, وخرج ما جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فلا يبدؤ بالبسملة ولا بالحمدلة بل بالتكبير مثلا.اهـ
تحفة المريد على جوهر التوحيد ص 3.

ويشترط ان لايكون ذلك الامر ذكرا محضا بان لم يكن ذكرا أصلا أو كان ذكرا غير محض كالقرآن فتسن التسمية فيه بخلاف الذكر المحض كلا إله إلا الله. وان لا يجعل له الشارع مبتدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فإنه جعل لها مبتدئ غير البسملة والحمدلة وهو التكبير.اهـ
الباجورى الجزء الأول ص 11.



والله اعلم

Hikmah Asyhurul Hurum

Hikmah ada Bulan Muharram di awal di tengah dan di akhir Tahun Hijriyah.

الْحِكْمَةُ فِي جَعْلِ الْمُحَرَّمِ أَوَّلَ السَّنَةِ أَنْ يَحْصُلَ الِابْتِدَاءُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَيُخْتَمَ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَتُتَوَسَّطَ السَّنَةُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَهُوَ رَجَبٌ وَإِنَّمَا تَوَالَى شَهْرَانِ فِي الْآخِرِ لِإِرَادَةِ تَفْضِيلِ الْخِتَامِ وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Hikmah dijadikan bulan muharram di awal tahun, agar hasil permulaan tahun dengan bulan Haram (Muharram) dan di akhiri dengan bulan Haram (dzul qa'dah dan dzul Hijjah) dan di tengah tahun dengan bulan Haram yaitu bulan Rajab".

"Sesungguhnya bergandengnya dua bulan Haram di akhir tahun, karena maksud mengagungkan pengakhiran dan mengagungkan amal amal dengan penutupan".

[ابن حجر العسقلاني، فتح الباري لابن حجر، ١٠٨/٨]

Sumber: Fathul Bari Ibnu Hajar Al Asqalani Juz 8 hal 108

Catatan:

Semoga maksudnya adalah: "bahwa satu tahun di awali dengan keagungan di tengahi dengan keagungan dan di akhiri dengan keagungan terutama mengangkat keagungan amal amal perbuatan mulia".

KENAPA DISEBUT HARI ASYURO

Abu Laits As Samarqandi Rahimahullah berkata:

قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا سُمِّيَ عَاشُورَاءُ لِأَنَّهُ عَاشِرُ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، 

Berkata sebagian Ulama:"Dikatakan Asyuro karena dia hari kesepuluh dari bulan Muharrom"

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَكْرَمَ فِيهِ عَشْرَةً مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، بِعَشْرِ كَرَامَاتٍ 

Dan berkata sebagian Ulama: "Karena Allah Memuliakan 10 Nabinya dihari itu dengan 10 kemuliaan."

تَابَ اللَّهُ عَلَى آدَمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَرَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى إِدْرِيسَ مَكَانًا عَلِيًّا فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ، وَاسْتَوَتْ سَفِينَةُ نُوحٍ عَلَى الْجُودِيِّ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَوُلِدَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ، وَاتَّخَذَهُ خَلِيلًا وَأَنْجَاهُ مِنَ النَّارِ كَذَلِكَ، 

"Allah menerima taubat Nabi Adam di hari Asyuro, dan Allah mengangkat Nabi Idris Alaihissalaam ke tempat yang tinggi di hari Asyuro, dan berlabuhnya kapal Nabi Nuh Alaihissalaam di bukit Judi dihari Asyuro, dan dilahirkanya Nabi Ibrahiim Alaihissalaam di hari Asyuro, dan dijadikanya sebagai Khalil (kekasih Allah) dan diselamatkan dari api begitu juga (di hari Asyuro"

وَتَابَ اللَّهُ عَلَى دَاوُدَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَرَفَعَ اللَّهُ عِيسَى يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَأَنْجَى اللَّهُ مُوسَى مِنَ الْبَحْرِ، وَأَغْرَقَ فِرْعَوْنَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَأَخْرَجَ يُونُسَ مِنْ بَطْنِ الْحُوتِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَرَدَّ مُلْكَ سُلَيْمَانَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَوُلِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ،

"Allah menerima taubat Nabi Daud Alaihissalaam di hari asyuro, dan Allah mengangkat Nabi Isa Alaihissalaam di hari Asyuro, dan Allah menyelamatkan Nabi Musa Alaihissalaam dari laut dan menenggelamkan Firaun di laut di hari Asyuro, Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman Alaihissalaam di hari Asyuro, dan dilahirkanya Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam di hari Asyuro"

 قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا سُمِّيَ عَاشُورَاءَ لِأَنَّهُ عَاشِرُ عَشْرِ كَرَامَاتٍ، أَكْرَمَ اللَّهُ بِهَا هَذِهِ الْأُمَّةَ.

Sebagian Ulama berkata: "Sesungguhnya dinamai Asyuro karena menyertakan sepuluh kemuliaan yang Allah memuliakan denganya untuk ummat ini"

[أبو الليث السمرقندي، تنبيه الغافلين بأحاديث سيد الأنبياء والمرسلين للسمرقندي، صفحة ٣٣٣]

Sumber
Kitab Tanbihul Ghafilin Hal 333

Wallahu A'lam

Sabtu, 16 Juli 2022

Ngaji kitab kasyifatu saja 3.



قال المصنف رحمه االله تعالى (بسم االله الرحمن الرحيم ) أي بكل اسم من أسماء الذات
الأعلى الموصوف بكمال الأفعال أو بإرادة ذلك أؤلف متبركاً أو مستعيناً فسره بذلك
شيخنا أحمد الدمياطي في حاشيته على أصول الفقه

Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi berkata,

بسم الله الرحمن الرحيم

artinya dengan perantara setiap nama dari nama-nama Dzat Yang
Maha Tinggi, yang bersifatan dengan kesempurnaan perbuatan- perbuatan atau yang bersifatan dengan menghendaki perbuataan- perbuatan, aku menyusun [kitab] seraya mengharap barokah atau
meminta pertolongan. Tafsiran basmalah ini adalah tafsiran yang
dijelaskan oleh Syaikhuna ad-Dimyati dalam Khasyiah Ushul Fiqih- nya.

Anjuran Mengawali Sesuatu dengan Basmalah

ابتدأ المصنف كتابه بالبسملة اقتداء بالكتاب العزيز في إبدائه ا أي في اللوح المحفوظ
أو بعد جمعه وترتيبه في المصحف، وأما ما روي أن أول ما كتبه القلم أنا التواب وأنا
أتوب على من تاب فهو في ساق العرش 

Mushonnif, yaitu Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi
mengawali kitabnya dengan basmalah karena mengikuti al-Quran
yang mulia, yang mana al-Quran juga diawali dengan basmalah, maksudnya, al-Quran diawali dengan basmalah saat al-Quran itu
masih ada di Lauh Mahfdudz, atau setelah dikumpulkan dan
diurutkan dalam mushaf. Adapun riwayat yang menyebutkan, “Yang
pertama kali ditulis oleh al-qolam adalah kalimat, ‘Aku adalah Allah
Yang Maha menerima taubat dan Aku akan menerima taubat hamba
yang bertaubat,’” maka tulisan tersebut terdapat di tiang ‘Arsy.

وامتثالاً وإطاعة لأمره صلى االله عليه وسلّم في قوله إن أول ما كتبه القلم بسم االله
الرحمن الرحيم فإذا كتبتم كتاباً فاكتبوها أوله وهي مفتاح كل كتاب أنزل ولما نزل على
جبريل ا أعادها ثلاثاً وقال :هي لك ولأمتك فمرهم لا يدعوها في شيء من أمورهم
إذا كتبتم كتاباً فاكتبوا في أوله بسم االله الرحمن الرحيم وإذا كتبتموها فاقرؤوها وروي عنه فإني لم أدعها طرفة عين مذ نزلت على أبيك آدم عليه السلام وكذا الملائكة وفي رواية
صلى االله عليه وسلّم أنه قال تخلقوا بأخلاق االله ولا شك أن عادته تعالى في ابتداء كل
سورة الإتيان بالبسملة سوى براءة فنحن مأمورون به

Selain itu, Syeh Salim bin Sumair mengawali kitabnya
dengan basmalah karena mengikuti dan mentaati perintah Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallama dalam sabdanya, “Sesungguhnya
yang pertama kali ditulis oleh al-qolam adalah.

 بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh
karena itu, ketika kalian menulis sebuah buku maka tulislah
basmalah di awalnya. Basmalah adalah kunci atau pembuka setiap
kitab yang diwahyukan. Ketika Jibril turun menemuiku membawa
wahyu basmalah, ia membacanya tiga kali dan berkata, ‘Basmalah
adalah untukmu dan umatmu. Perintahkanlah mereka untuk tidak
meninggalkan basmalah dalam semua urusan mereka, karena
sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkannya sekedip matapun
semenjak basmalah diturunkan kepada bapakmu, Adam ‘alaihi as- salaam. Begitu juga para malaikat tidak pernah meninggalkannya.’”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Ketika kalian menulis
sebuah kitab atau buku, maka tulislah basmalah pada permulaannya.
Kemudian ketika kalian sudah menulisnya maka bacalah basmalah
itu.”
Diriwayatkan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama
bahwa beliau bersabda, “Berbuatlah seperti perbuatan Allah!” Tidak
diragukan lagi bahwa kebiasaan perbuatan Allah adalah mengawali
setiap Surat dalam al-Quran dengan basmalah kecuali Surat at- Taubat. 

 Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mengawali
melakukan perbuatan yang baik menurut syariat dengan basmalah.

Catatan.


SEBAGIAN FADHILAH BASMALLAH

Dinukil dari kitab 'Uqudul Lujain Mbah Nawawi.

اعلم: أن البسملة كثيرةُ البركة، من ذكَرها حصل له المأمولُ، ومن واظب عليها حظى بالقبول،

ketahuilah bahwa sesungguhnya basmalah itu banyak berkahnya, barang siapa menyebutnya maka bisa mendapatkan apa yg di angankan dan barang siapa yg merutinkan membaca basamalah maka akan memperoleh penerimaan.

قيل: إن الكتب المنزلة من السماء إلى الأرض مائة وأربعةٌ: صُحُف شيث ستون، وصحفُ إبراهيم ثلاثون، وصحفُ موسى قبل التوراة عشرةٌ، والتوراةُ، والإنجيلُ، والزبورُ، والفرقانُ. ومعانى كل الكتب مجموعةٌ في القرآن، ومعانى القرآن مجموعةٌ في الفاتحة، ومعانى الفاتحة مجموعةٌ فى البسملة، ومعانى البسملة مجموعة فى بائها.

dikatakan bahwa sesungguhnya kitab kitab yg diturunkan dari langit ke bumi sebanyak 104, perinciannya suhufnya nabi Tsis sebanyak 60, suhufnya Nabi Ibrahim sebanyak 30, suhufnya Nabi Musa sebelum Taurat sebanyak 10, kemudian kitab Taurat, Injil, Zabur dan Alqur'an.

makna semua kitab kitab tersebut terkumpul di dalam Alqur'an, maknanya alqur'an terkumpul dalam surat alfatekhah, maknanya surat alfatekhah terkumpul dalam basmalah dan makananya  basamalah terkumpul dalam huruf ba'nya.

وكان بعضُ العلماء الصالحين أصابه مرضٌ شديدٌ أعجز الأطباءَ، فتفكّر في بعض الأعيان تلك العبارة، فواظب على البسملة من غير عددٍ محصورٍ، فشفاه الله تعالى ببركتها.

dulu sebagian ulama' yg sholeh tertimpa suatu penyakit berat yg tdk bisa disembuhkan oleh para dokter, kemudian ulama' tsb disebagian waktunya memikirkan 'ibarot tersebut , setelah itu sang ulama' merutinkan membaca basmalah dengan tanpa batas hitungan maka Allah ta'ala menyembuhkannya dengan berkahnya basamalah.
 
والله أعلم

Ngaji kitab kasyifatu saja 2



(هذه) تقييدات نافعة إن شاء االله تعالى على المختصر الملقب بسفينة النجا في أصول
الدين والفقه للشيخ العالم الفاضل سالم بن سمير الحضرمي إقليماً والبتاوي وفاة نور االله
ضريحه تتمم مسائله وتفك مشكله وتفصل مجمله
Kitab ini adalah catatan-catatan bermanfaat, in syaa Allah, atas kitab ringkasan yang berjudul Safinatu an-Naja Fii Ushul ad- Diin Wa al-Fiqhi karya Syeh al-Alim al-Fadhil Salim bin Sumair
yang berasal dari daerah Hadrami (diambil dari Hadramaut, Yaman)
dan wafat di daerah Betawi1
, Semoga Allah menyinari kuburannya.
Kitab ini akan melengkapi masalah-masalah dalam kitab Safinatu an- Naja, memperjelas keterangan-keterangan sulitnya, dan merinci
pernyataan-pernyataan umumnya.
وضعتها لتكون تذكرة لنفسي وللقاصرين مثلي من أبناء جنسي وسميتها (كاشفة السجا
في شرح سفينة النجا) وأوضحته بالتراجم بالفصل وغيره اقتداء بكتاب االله تعالى في كونه مترجماً مفصلاً سوراً سوراً ولأنه أبعث على الدرس والتحصيل منه وأقحمت فيه
فصل الصيام إن شاء االله تعالى ليزيد النفع على العوام بعون الملك العلام وجعلته كهيئة
المتن مع الشرح في المشابكة لتوافق صورة الفرع صورة الأصل فإن شرط المرافقة الموافقة
Aku menyusun syarah yang berisi catatan-catatan ini dengan
tujuan mengingatkan diriku sendiri dan orang-orang bodoh sepertiku.
Aku memberi judul syarah ini dengan ‘Kasyifatu as-Saja Fi Syarhi
Safinati an-Naja.’ Dalam syarah ini, aku menerangkan isi kitab
Safinatu an-Naja dalam bentuk susunan yang terdiri dari fasal-fasal
dan lain-lainnya (spt; tanbih, far’un, faedah, khotimah, dll) dengan
tujuan mengikuti [bentuk susunan] al-Quran yang juga diterangkan
dan ditampilkan dalam bentuk fasal dan surat demi surat dan dengan
tujuan agar lebih mudah untuk dipelajari dan dipahami. Aku
memasukkan fasal puasa di dalam kitab syarah-ku ini, in syaa Allah, agar lebih memberikan tambahan manfaat kepada orang-orang
awam.
Aku menyusun syarah kitab Safinah an-Naja ini dengan
perantara pertolongan Allah Yang Maha Merajai dan Mengetahui.
Aku menyusunnya dengan bentuk susunan sebagaimana umumnya, yakni, seperti susunan sebuah kitab matan dengan kitab syarahnya
dari segi hubungannya, agar bentuk cabang sesuai dengan bentuk
asalnya, karena syarat tabik atau sesuatu yang mengiringi harus
sesuai dengan matbuk atau sesuatu yang diiringi.

نسأله سبحانه تبارك وتعالى أن يعيننا على إكمالها وييسر الأسباب في افتتاحها
واختتامها وما حملني على جمعها إلا رجاء دعوة رجل صالح ينتفع منها بمسألة فيعود
نفعها علي في قبري لحديث إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية
أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له وأنا وإن كنت لست أهلاً لهذا الشأن والحال
قصدت التشبه بالرجال لأفوز بصحبتي إياهم لما ورد في الخبر من تشبه بقوم فهو منهم
وأردت الغوص في محبتهم لأحشر معهم لحديث البخاري يحشر المرء مع من أحب

Aku meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semoga
Dia menolongku menyelesaikan kitab Kasyifatu as-Saja ini dan
memudahkan langkah-langkahku untuk mengawali dan
mengakhirinya. Tidak ada hal yang memotivasiku untuk menyusun
kitab ini kecuali hanya mengharapkan doa-doa dari hamba-hamba
sholih yang mengambil manfaat dari satu masalah yang terdapat
dalam kitab ini, sehingga manfaatnya pun akan kembali kepadaku di
dalam kuburanku, karena berdasarkan hadis, “Ketika anak cucu
Adam telah meninggal dunia maka amalnya telah terputus kecuali 3
(tiga) perkara, yaitu shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan
anak sholih yang selalu mendoakan,” meskipun aku sendiri
sebenarnya bukanlah ahli atau cakap dalam perihal menyusun kitab.
Aku hanya berniat ingin meniru para ulama agar aku mendapatkan
keberuntungan sebab bergabung dengan mereka, karena berdasarkan
hadis, “Barang siapa meniru suatu kaum maka ia termasuk dari
golongan mereka.” Aku ingin menyelam ke dalam [lautan] mencintai
mereka agar aku kelak dikumpulkan bersama mereka, karena
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori, “Seseorang akan
dikumpulkan bersama orang-orang yang ia cintai.”

وينبغي لمن وقف على هفوة أن يصلحها بعد التأمل نسأل االله تعالى أن يبدل حالنا إلى
أحسن الأحوال وأن يجعلنا ممن تسعى إليه الناس لأخذ العلم لا لحظوظ الدنيا الفانية
وأن يمتعنا بالنظر إلى وجهه الكريم في الدار الباقية
Bagi siapapun yang menemukan kesalahan dalam kitab ini
hendaklah ia memperbaiki kesalahan tersebut setelah berangan- angan dan berpikir keras dan cerdas.
Aku meminta kepada Allah semoga Dia mengganti keadaanku
menjadi keadaan yang lebih baik, semoga Dia menjadikanku
termasuk orang yang diikuti oleh orang-orang lain karena tujuan
ingin mengambil ilmu [dariku], bukan karena ingin menghasilkan
tujuan-tujuan duniawi yang fana, dan semoga Dia nanti
menganugerahiku dengan anugerah melihat Dzat-Nya Yang Mulia di
akhirat yang kekal.

Catatan..

Diantara ketawaduan seorang mualif mushonif 
penyarah dll.

إن لم تكونوا مثلهم فتشبهوا # إن التشبه بالكرام فلاح

penyair berkata : jika kalian tidak bisa menjadi seperti mereka ( ulama' ) , maka tasyabbuhlah (menyerupai) mereka, karena tasyabbuh dg orang2 mulia itu adalah sebuah kebahagiaan.

( وفوق كل ذي علم عليم ) قال الحسن البصري : ليس عالم إلا فوقه عالم ، حتى ينتهي إلى الله عز وجل..

“…Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ‎ada yang Maha Mengetahui”

 (Q.S. Yusuf : 76)‎

Imam Hasan Al-Bashri ketika memaknai maksud ayat ini, sebagaimana ‎dikutip oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya, mengatakan bahwa tiadalah orang ‎alim, kecuali di atasnya ada orang alim lainnya, hingga ilmu itu terhenti ‎kepada Allah عز وجل.‎

والله أعلم

Jumat, 08 Juli 2022

Ngaji kitab kasyfatu saja.(1)


من يرد االله به خيرا يفقهه فى الدين (الحديث)

Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan niscaya Dia
akan memahamkannya di dalam agama. (Hadis)

بسم االله الرحمن الرحيم..

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan
Penyayang

الحمد الله الذي وفق من شاء من عباده لأداء أفضل الطاعات واكتساب أكمل
السعادات
Segala pujian hanya milik Allah yang telah memberikan
taufik-Nya kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki untuk
melakukan ketaatan dan mencari keberuntungan yang paling
sempurna.

وأشهد أن لا إله إلا االله المتصف بجميع الكمالات وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله
أفضل المخلوقات صلى االله عليه وسلّم وعلى آله وأصحاب الأنجم النيرات صلاة
وسلاماً دائمين ما دامت الأرض والسموات 

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang haq untuk
disembah selain Allah. Dia adalah Allah yang memiliki segala sifat
kesempurnaan. Dan aku bersaksi bahwa pemimpin kita, Muhammad,
adalah hamba-Nya, rasul-Nya, dan makhluk-Nya yang terbaik.
Semoga Allah mencurahkan tambahan rahmat dan salam kepadanya,
keluarganya, dan para sahabatnya yang bagaikan bintang-bintang
bersinar, dengan curahan rahmat dan salam yang selalu tercurahkan
atas mereka selama bumi dan langit masih ada.
(أما بعد) فيقول العبد الفقير المضطر لرحمة ربه العليم الخبير لكثرة التقصير والمساوي أبو
عبد المعطي محمد نووي بن عمر الجاوي الشافعي مذهباً البنتني إقليماً التناري منشأ وداراً 
غفر االله ذنوبه وستر في الدارين عيوبه 
(Amma Ba’du)
Berkatalah seorang hamba yang sangat membutuhkan
rahmat Tuhan-nya Yang Maha Mengetahui karena saking banyaknya
kecorobohan dan kesalahan yang ia lakukan, yaitu ia adalah Abu
Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi yang
bermadzhab Syafii, yang berasal dari daerah Banten, yang lahir di
desa Tanara, Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menutupi
aib-aibnya di dunia dan akhirat;

 Catatan.

وقد روينا فى صحيح مسلم عن أبى هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مَنْ دَعَا اِلَى هُدى كَانَ لَهُ من الأَجْرِ مِثْلُ أجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُضُ ذَلِكَ مِنْ أجُوْرِهِمْ شَيْئًا


Dalam kitab hadis Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah رضي الله عنه. bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebaikan) maka dia berhak memperoleh balasan pahala seperti pahala orang yang mengikuti petunjuknya itu, tanpa ada pengurangan sedikit pun terhadap pahala yang diperoleh orang yang melakukannya”.

فاردت مساعدة أهل الخير بتسهيل طريقه والإشارة اليه وإيضاح سلوكه والدلالة عليه وأذكر فى اول الكتاب فصولا مهمة يحتاج اليها صاحب هذا الكتاب وغيره من المعتنين

Maka saya berharap dalam penyusunan ini dapat membantu mereka yang senang berbuat kebaikan dengan mempermudah jalan, dan petunjuk serta penjelasan yang menuntun jalan mereka.

 قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإنّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ ما نَوَى فَمَنْ كَنَتْ هِجْرَتُهُ اِلى اللهِ وَرَسولِهِ فَهِجرتُهُ اِلى اللهِ وَرَسولِهِ وَمَنْ كَنَتْ هِجْرَتُهُ اِلى دُنيا يُصِيْبُوْنَهَا او إمْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجرتُهُ اِلى مَا هَاجَرَ اِلَيْهِ

Telah bersabda Rasulullah صلى الله علي وسلم  “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niat, dan (segala sesuatu itu tergantung kepada apa yang diniatkannya / tujuannya). Maka, barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dicarinya atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya akan sampai kepada apa yang mereka hijrahi itu”.


هذا حديث صحيح متفق على صحته مجمع على عظم موقعه وجلالته وهو احد الأحاديث التى عليها مدار الإسلام وكانت السلف وتابعوهم من الخلف رحمهم الله يستحبون استفتاح المصنفات بهذا الحديث تنبيها للمطالع على حسن النية واهتمامه بذلك والاعتناء به

Hadis ini merupakan hadis shahih yang disepakati keshahihannya dan keagungan derajatnya diakui secara ijma’. Dan hadis ini merupakan salah satu hadis yang dijadikan poros berputarnya agama Islam. Para penulis kitab terdahulu beserta para ulama masa kini yang mengikuti mereka sangat menyukai hadis ini dan sering menjadikannya sebagai pembuka dalam kitab karangannya, hal ini dimaksudkan sebagai peringatan kepada para pembaca agar meluruskan dan memperbaiki niat.

روينا عن الإمام ابى سعيد عبد الرحمن بن مهدى رحمه الله تعالى من اراد ان يصنف كتابا فاليبدأ بهذا الحديث

Imam Abi Said Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah Ta’ala meriwayatkan bahwa barang siapa yang hendak menulis atau menyusun sebuah kitab, hendaklah ia mengawali penyusunannya dengan mencantumkan hadis ini.

وقال الإمام ابو سليمان الخطابى رحمه الله كان المتقدمون من شيوخنا يستحبون تقديم حديث الأعمال بالنية أمام كل شيئ ينشأ ويبتدأ من امور الدين لعموم الحاجة اليه فى جميع أنواعها

Dan Abu Sulaiman al-Khattabi rahimahullah mengatakan para guru kita yang terdahulu sangat suka mendahulukan hadis ini..

(Dalam setiap permulaan segala sesuatu yang mereka buat, baik dalam urusan agama maupun dalam hal apa saja..)

والله اعلم