Ngaji kitab kasyifatusaja 10
(ولا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم) أي لا تحول عن معصية االله إلا باالله ولا قوة
على طاعة االله إلا بعون االله هكذا ورد تفسيره عنه عليه السلام عن جبريل أفاده شيخنا
يوسف السنبلاويني والعلي المرتقع الرتبة المنزه عما سواه والعظيم ذو العظمة والكبرياء
قاله الصاوي
kemampuan ada tidak Artinya]
لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم,]
menghindari maksiat kecuali dengan pertolongan Allah dan tidak ada
kekuatan melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan-Nya.
Demikian ini adalah tafsirannya yang terdengar dari Rasulullah
‘alaihi as-salam dari Jibril, seperti yang disebutkan oleh Syaikhuna
Yusuf as-Sunbulawini. Lafadz ‘العلي ‘berarti Yang Maha Luhur
Derajat-Nya, dan Yang Maha Suci dari segala sesuatu selain-Nya.
Lafadz ‘العظيم ‘berarti Yang Memiliki Keagungan dan Kesombongan,
seperti yang dikatakan oleh as-Showi.
وإنما أتى المصنف بالحوقلة لأجل التبري منهما، فهذه علامة الإخلاص منه رضي االله
عنه كما قاله بعضهم :صحح عملك بالإخلاص وصحح إخلاصك بالتبري من الحول
والقوة وأيضاً هي غراس الجنة كما في حديث المعراج لما رأى رسول االله صلى االله عليه
وسلّم سيدنا إبراهيم عليه السلام جالساً عند باب الجنة على كرسي من زبرجد أخضر
قال لسيدنا رسول االله صلى االله عليه وسلّم مر أمتك فلتكثر من غراس الجنة فإن أرضها
طيبة واسعة فقال وما غراس الجنة؟ فقال لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم
Adapun Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi mendatangkan lafadz hauqolah.
لا حول ولا قوة إلا باالله
adalah karena mengakui
ketidakmampuannya akan menghindari maksiat dan melakukan
ketaatan kecuali hanya dengan pertolongan Allah.
Alasan ini
merupakan bukti keikhlasan darinya radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana telah dikatakan oleh sebagian ulama, “Absahkanlah
amalmu dengan ikhlas dan absahkanlah keikhlasanmu dengan
mengakui ketidakmampuanmu menghindari maksiat dan melakukan
ketaatan kecuali dengan (pertolongan) Allah!”
Selain itu, lafadz hauqolah adalah tanaman-tanaman surga,
seperti yang disebutkan dalam hadis Mi’roj, “Ketika Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallama melihat Nabi Ibrahim ‘alaihi as- salam yang tengah duduk di samping pintu surga di atas kursi yang
terbuat dari intan zabarjud hijau, Nabi Ibrahim berkata kepada
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ‘Perintahkanlah umatmu
untuk memperbanyak tanaman-tanaman surga karena tanah surga
sangatlah subur dan luas!’ Rasulullah bertanya, ‘Apa tanaman-
tanaman surga itu?’ Nabi Ibrahim menjawab, ‘Tanaman-tanaman surga adalah
لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم.
وقال القليوبي في شرح المعراج فائدة روي عن ابن عباس رضي االله عنهما أنه قال قال رسول االله صلى االله عليه وسلّم من مشى إلى غريمه بحقه يؤديه إليه صلت عليه دواب
الأرض ونون البحار أي حيتا ا وغرس له بكل خطوة شجرة في الجنة وغفر له ذنب وما
مني غريم يلوي غريمه أي يماطله ويسوف به وهو قادر إلا كتب االله عليه في كل وقت
إثماً
Qulyubi berkata dalam Syarah al-Mi’roj, “(Faedah)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia
berkata, ‘Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda; Barang
siapa berjalan menuju orang yang menghutanginya dengan
membawa hak pihak yang menghutangi karena hendak membayar
hutang kepadanya maka binatang-binatang di atas bumi dan ikan-
ikan di lautan memintakan rahmat untuknya, dan ditanamkan
baginya pohon di surga dengan setiap langkahnya, dan diampuni
dosa darinya. Tidak ada orang yang berhutang yang menunda-nunda
membayar kepada orang yang menghutanginya padahal ia mampu
untuk membayarnya kecuali Allah menulis dosa untuknya di setiap
waktu.’”
ومن خواصها ما في فوائد الشرجي قال ابن أبي الدنيا بسنده إلى النبي صلى االله عليه
وسلّم أنه قال من قال كل يوم لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم مائة مرة لم يصبه
فقر أبداً اه
Termasuk keistimewaan kalimah hauqolah adalah seperti
yang tertulis dalam kitab Fawaid asy-Syarji bahwa Ibnu Abi Dun -ya
berkata dengan sanadnya yang sampai pada Rasulullah shollallahu
‘alaihi wa sallama bahwa beliau bersabda, “Barang siapa membaca :
لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم’
setiap hari 100 kali maka ia tidak akan
tertimpa kefakiran selamanya.”
وروي في الخبر أيضاً إذا نزل بالإنسان مهم وتلا لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم
ثلاثمائة مرة فرج االله عنه أي أقلها ذلك ذكره شيخنا يوسف في حاشيته على المعراج
Diriwayatkan dalam hadis juga, “Ketika seseorang memiliki
hajat yang penting, dan ia membaca.
لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم
sebanyak minimal 300 kali maka Allah memudahkan hajat itu.”
Demikian ini disebutkan oleh Syaikhuna Yusuf dalam Hasyiah-nya
a'la almi'roj.
(تنبيه) قال العلماء رضي االله عنهم اعلم أنه لا يثاب ذاكر على ذكره إلا إذا عرف ‘
معناه ولو إجمالاً بخلاف القرآن فيثاب قارئه مطلقاً، نبه على ذلك القليوبي
[TANBIH]
Ulama radhiyallahu ‘anhum berkata, “Ketahuilah!
Sesungguhnya seseorang tidak akan diberi pahala atas dzikirnya
kecuali ketika ia mengetahui makna dzikirnya tersebut meskipun
secara global. Berbeda dengan al-Quran, maka sesungguhnya orang
yang membacanya akan diberi pahala secara mutlak, baik
mengetahui maknanya ataupun tidak.” Demikian ini disebutkan oleh
Qulyubi.
(فائدة) قال المقدسي رحمه االله تعالى الألف واللام في أسمائه تعالى للكمال لا للعموم ولا
للعهد قال سيبويه تكون لام التعريف للكمال تقول زيد الرجل أي الكامل في الرجولية
وكذلك هي من أسمائه تعالى، ذكر هذين القولين أحمد التونسي في نشر اللآلي
[FAEDAH]
Al-Muqoddasi rahimahullah berkata, “Huruf ‘ال ‘yang masuk
dalam lafadz nama-nama Allah ta’ala berfungsi menunjukkan arti
kesempurnaan, bukan arti umum atau ‘ahdi.” Sibawaih berkata,
“Huruf ‘ل ‘yang berfungsi memakrifatkan (isim nakiroh) bisa
menunjukkan arti kesempurnaan. Seperti kamu mengatakan;
زيد الرجل
Zaid adalah orang yang sempurna sifat kelaki-lakiannya. Demikian
juga huruf ‘ل ‘yang masuk dalam lafadz nama-nama Allah ta’ala. [Dengan demikian ketika kamu mengatakan;
االله القدير
maka artinya adalah Allah Yang Maha Sempurna Kekuasaan-Nya.]”
Dua pendapat ini, maksudnya dari al-Muqoddasi dan Sibawaih,disebutkan oleh ahmad at Tunisi
dalam kitab Nasrul al laali.
واعلم أن لفظ الجلالة أعرف المعارف باتفاق .ويحكى أن سيبويه رؤي في المنام وأخبر
بأن االله تعالى أكرمه بكرامة عظيمة بقوله ان اسمه تعالى أعرف المعارف
Ketahuilah! Sesungguhnya lafadz Jalalah atau ‘االله ‘adalah
lafadz yang paling makrifat berdasarkan kesepakatan para ulama.
Dikisahkan bahwa Sibawaih diimpikan dalam tidur
seseorang. Sibawaih memberitahunya bahwa Allah telah
memuliakannya dengan kemuliaan yang agung karena ucapannya,
“Sesungguhnya nama ‘االله ‘ta’aala adalah kalimah isim yang paling
makrifat.”
Cattatan..
قَالَ النَّوَوِيُّ هِيَ كَلِمَةُ اسْتِسْلَامٍ وَتَفْوِيْضٍ، وَأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ مِنْ أَمْرِهِ شَيْئًا، وَلَيْسَ لَهُ حِيْلَةٌ فِي دَفْعِ شَرٍّ وَلَا قُوَّةَ فِي جَلْبِ خَيْرٍ إِلَّا بِإِرَادَةِ اللهِ
Artinya, “Imam an-Nawawi berkata: 'Kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah..
adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah),
dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, tidak ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak
Allah سبحانه وتعالى
و لسامعهما ان تقول و لو غير متوضئ مثل قولهما الا فى حيعلات فيحوقل.....اى يقول المجيب بدل كل منها : لا حول ولا قوة الا بالله يقولها اربع مرات، و انما يسن للمجيب ذلك لانه تفويض مخض الى الله تعالى، و الحيعلات دعاء الى الصلاة فلا يليق بغير المؤذن نهاية الزين ٩٧
Bagi orang yang mendengarkan adzan mengucapkan -walaupun tidak memiliki wudlu- seperti ucapan muadzdzin kecuali pada lafadh hay'alaat,
pendengar mengucapkan hawqalah, yaitu menjawab sebagai ganti dari hay'alaat laa hawla wa laa quwwata illaa billaah empat kali, dan disunnahkannya menjawab dengan hawqalah ..
karena hal itu merupakan bentuk kepasrahan yang murni kepada Allah dan hay'alaat adalah ajakan untuk shalat maka tidaklah pantas hal itu kecuali bagi muadzdzin..
ALASAN ketidaksamaan jawaban untuk "Hai'alah" Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dalam Syarh Shahih Bukhari :
بِأَنَّ الْأَذْكَارَ الزَّائِدَةَ عَلَى الْحَيْعَلَةِ يَشْتَرِكُ السَّامِعُ وَالْمُؤَذِّنُ فِي ثَوَابِهَا وَأَمَّا الْحَيْعَلَةُ فَمَقْصُودُهَا الدُّعَاءُ إِلَى الصَّلَاةِ وَذَلِكَ يَحْصُلُ مِنَ الْمُؤَذِّنِ فَعُوِّضَ السَّامِعُ عَمَّا يَفُوتُهُ مِنْ ثَوَابِ الْحَيْعَلَةِ بِثَوَابِ الْحَوْقَلَةِ
Bahwa dzikir yang ditambah sebagai jawaban Hai'alah tersebut berguna untuk pemerataan pahala antara si pendengar dan si mu'adzdzin.
Hai'alah tujuannya mengajak sholat, oleh karena itu pahalanya hanya untuk muadzdzin, dan untuk si pendengar sebagai ganti dari kekosongan pahala Hai'alah maka digantilah dengan pahala Hauqalah sebagai jawabannya..
والله اعلم







0 komentar:
Posting Komentar