وعملاً بحديث أبي داود وغيره كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم االله الرحمن الرحيم فهو .
أبتر أو أقطع أو أجذم والبال الشرف والعظمة أو الحال والشأن الذي يهتم به شرعاً
ومعنى الاهتمام به طلبه أو إباحته بأن لا يكون محرماً لذاته ولا مكروهاً لذاته لكن لا
تطلب البسملة على محقرات الأمور ككنس زبل ولا تطلب للذكر المحض كالتهليل
Begitu juga, Syeh Salim bin Sumair mengawali kitabnya
dengan basmalah karena mengamalkan hadis yang diriwayatkan oleh
Abu Daud dan lainnya, yaitu;
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم االله الرحمن الرحيم فهو .
أبتر أو أقطع أو أجذم..
Artinya: Setiap perkara yang baik menurut syariat yang karenanya
tidak diawali dengan,
بسم الله الرحمن الرحيم ‘maka perkara tersebut adalah
abtar, atau aqtok, atau ajdzam. Kata
البال “dalam hadis di atas berarti kemuliaan, keagungan,
keadaan, dan keadaan yang dinilai penting oleh Syariat. Sedangkan
pengertian “dinilai penting oleh Syariat” adalah perkara yang
dianjurkan atau diperbolehkan oleh syariat, sekiranya perkara itu
tidak diharamkan karena dzatnya dan tidak dimakruhkan karena
dzatnya. Oleh karena itu, basmalah tidak dianjurkan dalam perkara- perkara yang remeh atau hina, seperti menyapu kotoran hewan, dan
tidak dianjurkan dalam dzikir yang murni (mahdoh), seperti dzikir
Laa Ilaha Illa Allah.
وقال الشيخ عميرة والبال أيضاً القلب كأن الأمر لشرفه وعظمه ملك قلب صاحبه
لاشتغاله به وفي قوله فيه للسببية على قياس قوله صلى الله عليه وسلّم دخلت امرأة النار
في هرة أي بسببها حبستها وهي امرأة من بني إسرائيل
Syeh Umairah berkata, lafadz ‘البال ‘juga bisa berarti ‘القلب ‘atau hati. Oleh karena itu, seolah-olah perkara tersebut, karena
kemuliaan dan keagungannya, telah menguasai hati orang yang
melakukan perkara tersebut karena hatinya tengah dihadapkan
dengan dan difokuskan pada perkara itu.
Lafadz ‘فى ‘dalam sabda Rasulullah ‘فيه ‘di atas memiliki arti
sababiah berdasarkan pengqiasan dengan sabda beliau;
دخلت امرأة النار
“Seorang wanita masuk ke dalam neraka sebab kucing [yang ia
kekang dan tidak diberinya makan].” Wanita tersebut berasal dari
Bani Israil.
والأبتر مقطوع الذنب والأقطع من قطعت يداه أو إحداهما والأجذم بالذال المعجمة
المقطوع اليد وقيل الذاهب الأنامل وقال البراوي هو علة معروفة فهو من باب التشبيه
البليغ
Lafadz ‘الأبتر ‘berarti yang terpotong ekornya. Lafadz ‘الأقطع ‘berarti orang yang terpotong kedua tangannya atau salah satu dari
keduanya. Lafadz ‘الأجذم ‘dengan huruf /ذ /yang bertitik satu berarti
yang terpotong tangannya. Ada yang mengatakan lafadz ‘الأجذم ‘berarti yang hilang jari-jarinya. Al-Barowi berkata, “Ajdzam adalah
sebuah penyakit tertentu yang sudah terkenal.” Dalam hadis Kullu
Amrin ...dst di atas mengandung susunan tasybih al-baligh.
ومعنى الحديث كل شيء له شرف وعظمة أو كل شيء يطلب أو يباح أو كل شيء له
قلب أي يملك قلباً لا يبدأ بسبب ذلك الشيء ببسم االله الرحمن الرحيم فهو كالحيوان
المقطوع الذنب أو كمن قطعت يداه أو كمن ذهبت أنامله أو كمن به جذام في نقصه
وعيبه شرعاً وإن تم حساً
Arti hadis di atas adalah “Setiap perkara yang memiliki
kemuliaan atau keagungan, atau setiap perkara yang dianjurkan
dilakukan atau yang diperbolehkan dilakukan atau setiap perkara
yang memiliki hati, yang sebab perkara tersebut tidak diawali dengan
بسم الله الرحمن الرحيم
‘maka perkara tersebut adalah seperti hewan yang
terpotong ekornya, atau seperti manusia yang terpotong kedua
tangannya, atau seperti manusia yang hilang jari-jarinya, atau seperti
manusia yang mengidap penyakit kusta, dalam artian bahwa perkara
tersebut memiliki kekurangan dan cacat menurut syariat meskipun
secara dzohir atau nampaknya, perkara tersebut telah terselesaikan.
*Catatan*
Membaca basmalah ada yang sunah
bahkan haram
dan tidak sunah
1️⃣ Membaca basmalah sebelum membaca Al-Qur'an hukumnya sunnah
ـ (فرع) تُسنّ التسميةُ لتلاوَةِ القرآنِ، ولو مِن أثناءِ سُورَةٍ في صلاةٍ أو خارِجِها، ولِغُسْلٍ وَتيمم وذَبْح ـ اهـ فتح المعين ص ٥١
Cabang : Disunnahkan membaca basmalah untuk tujuan membaca Al-Qur'an walaupun ketika ditengah tengah membaca surah Al-Qur'an di dalam sholat maupun diluar sholat, begitu juga disunnahkan membaca basmalah untuk tujuan mandi, tayammum, maupun menyembelih binatang
Fathul Mu'in halaman 51
2️⃣Baca BASMALAH itu terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)
قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج
Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh..
Hawasyi Assyarwaani wa al ‘ubaady II36
كتاب نهاية القول المفيد :
وليحافظ على قراءة البسملة أول كل سورة غير براءة، لأن أكثر العلماء على أنها آية، فإذا أخل بها كان تاركاً لبعض الختمة عند الأكثرين أما في الإبتداء بما بعد أوائل السور ولو بكلمة فتجوز البسملة وعدمها لكل من القراء تخييرا
Kitab Nihayah Qoul Al-Mufid
Dan jagalah dengan benar benar untuk membaca basmallah di awal setiap surat selain surat baro'ah, karena kebanyakan ulama' berpendapat bahwa basmallah termasuk ayatnya surat, ketika basmallah tidak dibaca di awal surat maka dia termasuk orang yang meninggalkan sebagian yang sempurna menurut kebanyakan ulama'
Adapun membaca basmallah dalam permulaan yang setelah awal surat walaupun satu kalimat maka hukumnya boleh , tidak membaca basmallah juga boleh, hal itu TERSERAH bagi pembacanya
(فَصْلٌ) السُّنَّةُأَنَّ الْمُسْلِمَ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ قَبْلَ كُلِّ كَلاَمٍ ِلأَنَّهُ تَحِيَّةٌ يَبْدَأُ بِهِ فَيَفُوْتُ بِاْلإِفْتِتَاحِ بِالْكَلاَمِ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ.
3️⃣PASAL
Yang sunah orang salam itu mulainya sebelum bicara apa-apa …
Salam adalah sebelum berbicara. Karena salam adalah penghormatan yang dibuat permulaan. Sunahnya tidak ada jika sudah dimulai dengan bicara dahulu. Seperti sunahnya tahuyatul masjid, sebelum melakukan apa-apa"
Al-Adzkar An-Nawawi I/168
Hukum membaca bismillah sebelum salam adalah tidak sunah untuk dijawab, alasanya hukum sunahnya memulai sesuatu dengan mengucapkan bismillah sebagaimana dalam hadits كلّ أمر ذى بال إلخ itu berlaku kalau memang perkaranya bukan dzikir yang murni sebagaimana bacaan ayat al-Qur’an yang dibuat dzikir sehingga kalau nanti perkara itu adalah asalnya untuk dzikir maka tidak sunah memulainya dengan bacaan bismillah padahal mengucapkan salam itu asalnya memang untuk dzikir oleh karenanya kalau didahului dengan bacaan bismillah maka itu termasuk mendahului dengan kalam yang punya pengaruh hukum tidak sunah dijawab.
Dengan ibarot sebagai berikut :
ومنها أن يبدأ كل مسلم منهم بالسلام قبل الكلام ويصافحه عند السلام قال النبى من بدأ بالكلام قبل السلام فلا تجيبوه حتى يبدأ بالسلام .اهـ إحياء علوم الدين الجزء الثانى ص 200 باب حقوق المسلم
والمراد بالأمر ما يعم القول كالقرأة والفعل كالتأليف, ومعنى ذى بال أى صاحب حال بحيث يهتم به شرعا أى بأن لا يكون من سفاسف الأمور وليس محرما ولا مكروها. ويشترط أيضا أن لا يكون ذكرا محضا ولا جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة, وخرج ما جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فلا يبدؤ بالبسملة ولا بالحمدلة بل بالتكبير مثلا.اهـ
تحفة المريد على جوهر التوحيد ص 3.
ويشترط ان لايكون ذلك الامر ذكرا محضا بان لم يكن ذكرا أصلا أو كان ذكرا غير محض كالقرآن فتسن التسمية فيه بخلاف الذكر المحض كلا إله إلا الله. وان لا يجعل له الشارع مبتدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فإنه جعل لها مبتدئ غير البسملة والحمدلة وهو التكبير.اهـ
الباجورى الجزء الأول ص 11.
والله اعلم







0 komentar:
Posting Komentar