This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 25 Juli 2022

Ngaji kitab kasyifatu saja 5




Perbedaan Pendapat Ulama Seputar Basmalah.

واختلف في البسملة هل هي آية من الفاتحة ومن كل سورة فعند مالك  انها ليست آية
من الفاتحة ولا من كل سورة وعند عبد االله بن المبارك أنها  آية من كل سورة وعند
الشافعي أنها  آية من الفاتحة وتردد في غيرها ولم يختلفوا فيها في النمل في عدها من
القرآن

Masalah basmalah telah diperselisihkan oleh ulama tentang
apakah basmalah termasuk salah satu ayat dari al-Fatihah dan
apakah termasuk salah satu ayat dari setiap Surat dalam al-Quran?
 Menurut Imam Malik, basmalah tidak termasuk salah satu ayat
dari al-Fatihah dan juga tidak termasuk salah satu ayat dari setiap
Surat dalam al-Quran.
 Menurut Abdullah bin Mubarok, basmalah termasuk salah satu
ayat dari setiap Surat dalam al-Quran.
 Menurut Imam Syafii, basmalah termasuk salah satu ayat dari al- Fatihah dan masih belum jelas dalam hal apakah termasuk ayat
dari setiap Surat dalam al-Quran atau bukan termasuk darinya.
Sedangkan ulama tidak berselisih pendapat mengenai basmalah
dalam Surat an-Naml. Mereka bersepakat bahwa basmalah dalam
Surat an-Naml termasuk dari al-Quran.

ومن خواصها إذا تلاها شخص عند النوم إحدى وعشرين مرة أمن تلك الليلة من
الشيطان وأمن بيته من السرقة وأمن من موت الفجأة وغير ذلك من البلايا أفاده أحمد
الصاوي

Termasuk salah satu keistimewaan basmalah adalah ketika
seseorang membacanya saat hendak tidur sebanyak 21 kali maka
pada malam itu ia aman dari gangguan setan dan rumahnya aman
dari pencurian, dan ia selamat dari mati secara mengagetkan dan
mara bahaya lainnya. Demikian ini disebutkan oleh Ahmad Showi.


Anjuran Mengawali Sesuatu dengan Hamdalah

(الحمد) أي الثناء بالكلام على الجميل الاختياري مع جهة التبجيل والتعظيم سواء كان
في مقابلة نعمة أم لا مستحق (الله) وهذا هو الحمد اللغوي الذي طلبت البداءة به، وأما
الحمد الاصطلاحي فلا يطلب البداءة به وهو فعل يدل على تعظيم المنعم من حيث
كونه منعماً على الحامد أو غيره سواء كان ذلك قولاً باللسان أو اعتقاداً بالجنان أو
عملاً بالأركان التي هي الأعضاء (رب) أي مصلح (العالمين)
 
[Segala pujian] atau
الحمد,‘maksudnya, memuji dengan
pernyataan lisan kepada Dzat Allah (atau sifat-Nya), baik secara
hakikat atau hukum, disertai mengagungkan dan memuliakan, baik
pujian tersebut sebagai perbandingan atas nikmat atau tidak, adalah
hak [bagi Allah]. Pengertian pujian tersebut adalah pengertian secara
bahasa yang memang dianjurkan untuk mengawali sesuatu
dengannya. Adapun pujian menurut pengertian istilah maka tidak
dianjurkan untuk mengawali sesuatu dengannya, karena pengertian

“pujian الحمد
 menurut istilah adalah perbuatan yang menunjukkan
sikap mengagungkan atau memuliakan pihak yang memberi nikmat
dari segi bahwa pihak yang memberi nikmat tersebut adalah pihak
yang memberi nikmat kepada orang yang memuji atau kepada yang
lainnya, baik perbuatan tersebut bersifat ucapan lisan, atau bersifat
keyakinan hati, atau bersifat aksi dengan anggota-anggota tubuh
.
لما افتتح بالبسملة افتتاحاً حقيقياً افتتح بالحمدلة افتتاحاً إضافياً جمعاً بين حديثي 

.[ seluruh yang Mengatur alam adalah Allah]

البسملة والحمدلة واقتداء بالكتاب أيضاً وعملاً بحديث ابن ماجه كل أمر ذي بال لا
يبدأ فيه بالحمد الله فهو أجذم وفي رواية فهو أقطع وفي رواية فهو أبتر والمعنى على كل
مقطوع البركة وناقصها وقليلها

Ketika Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi telah mengawali
pembukaan kitabnya dengan basmalah, yaitu dengan bentuk
pembukaan haqiqi (ibtidak haqiqi), maka ia juga membukanya
dengan hamdalah dengan bentuk pembukaan idhofi (ibtidak idhofi),
dengan tujuan mengamalkan secara bersamaan dua hadis yang
menjelaskan tentang anjuran pembukaan dengan basmalah dan
hamdalah, dan karena meniru al-Quran, dan karena mengamalkan
hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, “Setiap perkara yang
memiliki kemuliaan atau keagungan menurut syariat yang karenanya
tidak diawali dengan

 الحمد لله

‘maka perkara tersebut adalah ajdzam.”
Dalam satu riwayat disebutkan, “... maka perkara tersebut adalah
aqthok.” Dalam satu riwayat disebutkan, “... maka perkara tersebut
adalah abtar.” Arti masing-masing dari tiga riwayat tersebut adalah
bahwa perkara tersebut kurang barokah atau sedikit barokah.

قال النووي رحمه االله تعالى يستحب الحمد في ابتداء الكتب المصنفة وكذا في ابتداء
دروس المدرسين وقراءة الطالبين بين يدي المعلمين سواء قرأ حديثاً أو فقهاً أو غيرهما
وأحسن العبارات في ذلك الحمد الله رب العالمين

Syeh Nawawi rahimahullah berkata, “Disunahkan memuji
Allah dalam mengawali kitab-kitab yang disusun. Begitu juga, memuji Allah disunahkan dalam mengawali pelajaran bagi para guru
dan dalam mengawali membaca atau sorogan bagi para santri di
hadapan para guru, baik membaca Fan Hadis, Fiqih, atau yang
lainnya.” Memuji Allah yang paling baik adalah dengan pernyataan.

الحمد الله رب العالمين

وقال بعض الشافعية أفضل المحامد أن يقال الحمد الله حمداً يوافي نعمه ويكافىء مزيده
وقيل أفضل المحامد أن يقال الحمد الله بجميع محامده كلها ما علمت منها وما لم أعلم
زاد بعضهم عدد خلقه كلهم ما علمت منهم وما لم أعلم

Sebagian ulama yang bermadzhab Syafii berkata, “Memuji
Allah yang paling utama adalah dengan ibarot;

اَلحَْمْدُ اللهِ حمَْداً يـُوَافيِ نِعَمَهُ وَيُكَافىِ ءُ مَزِيْدَهُ 

Ada yang mengatakan, “Yang paling utama dalam memuji
Allah adalah mengatakan;

اَلحَْمْدُ اللهِ بجَِمِيْعِ محََامِدِهِ كُلِّهَا مَا عَلِمْتُ مِنـْهَا وَمَا لمَْ أَعْلَمْ 

Sebagian ulama lain menambahkan menjadi;

اَلحَْمْدُ اللهِ بجَِمِيْعِ محََامِدِهِ كُلِّهَا مَا عَلِمْتُ مِنـْهَا وَمَا لمَْ أَعْلَمْ عَدَدَ خَلْقِهِ كُلِّهِمْ مَا عَلِمْتُ 
مِنـْهُمْ وَمَا لمَْ أَعْلَمْ 
وفي خبر ابن ماجه عن عائشة كان رسول االله صلى االله عليه وسلّم إذا رأى ما يحب
قال الحمد الله الذي بنعمته تتم الصالحات وإذا رأى ما يكره قال الحمد الله على كل
حال رب إني أعوذ بك من حال أهل النار

Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dari Aisyah, “Ketika Rasulullah, shollallahu ‘alaihi wa sallama,
melihat sesuatu yang beliau sukai, maka beliau berkata;

اَلحَْمْدُ اللهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالحَِاتُ 

Dan ketika beliau melihat sesuatu yang beliau tidak sukai
maka beliau berkata;

اَلحَْمْدُ اللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ رَبِّ إِنيِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ

Catatan.

Awali setiap do'a dengan teks seperti ini jangan suka ngarang sendiri.

 اﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﺣﻤﺪا ﻛﺜﻴﺮا ﻃﻴﺒﺎ ﻣﺒﺎﺭﻛﺎ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻛﺤﺎﻝ، ﺣﻤﺪا ﻳﻮاﻓﻲ ﻧﻌﻤﻪ ﻭﻳﻜﺎﻓﺊ ﻣﺰﻳﺪﻩ.
ﻳﺎ ﺭﺑﻨﺎ ﻟﻚ اﻟﺤﻤﺪ ﻛﻤﺎ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﺠﻼﻝ ﻭﺟﻬﻚ ﻭﻋﻈﻴﻢ ﺳﻠﻄﺎﻧﻚ، ﺳﺒﺤﺎﻧﻚ ﻻ ﻧﺤﺼﻲ ﺛﻨﺎء ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻧﺖ ﻛﻤﺎ ﺃﺛﻨﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻚ.

Di lanjutkan sholawat,
do'a hajat dunia dan akhirat yang baik yang warid .

فصل يستحب ان يختم دعاءه بالحمد لله رب العالمين وكذلك يبتدئه بالحمد لله قال الله تعالى وَءَاخِرُ دَعۡوَىٰهُمۡ أَنِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٠ واما ابتداء الدعاء بحمد الله وتمجيده 

(Pasal) Disunnahkan menutup doa dengan kalimat “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”. Begitu juga saat memulai berdoa. Allah berfirman, “Dan penutup doa mereka adalah, “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”. (QS. Yunus: 10)

Adapun permulaan doa dengan memuji Allah, 

فصل يستحب حمد الله تعالى عند حصول نعمة او اندفاع مكروه سواء حصل ذلك لنفسه او لصاحبه او للمسلمين

(Pasal) Disunnahkan mengucapkan hamdalah saat memperoleh nikmat atau dihindarkan dari  bala’, baik dirinya sendiri atau bagi orang muslim lainnya.



قال بعض العارفين الحمد لله ثمانية احرف كأبواب الجنة فمن قالها عن صفاء قلب استحق أن يدخل الجنة من أيها شاء

“Sebagian Ulama ahli makrifat berkata; alhamdulillah itu ada 8 huruf sebagaimana pintu-pintu surga. Barangsiapa mengucapkan alhamdulillah dengan ikhlas maka dia berhak masuk surga dari pintu mana yang dia kehendaki

والله اعلم

Ngaji kitab kasyifatusaja 4.



وعملاً بحديث أبي داود وغيره كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم االله الرحمن الرحيم فهو .
أبتر أو أقطع أو أجذم والبال الشرف والعظمة أو الحال والشأن الذي يهتم به شرعاً

ومعنى الاهتمام به طلبه أو إباحته بأن لا يكون محرماً لذاته ولا مكروهاً لذاته لكن لا
تطلب البسملة على محقرات الأمور ككنس زبل ولا تطلب للذكر المحض كالتهليل


Begitu juga, Syeh Salim bin Sumair mengawali kitabnya
dengan basmalah karena mengamalkan hadis yang diriwayatkan oleh
Abu Daud dan lainnya, yaitu;

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم االله الرحمن الرحيم فهو .
أبتر أو أقطع أو أجذم..

Artinya: Setiap perkara yang baik menurut syariat yang karenanya
tidak diawali dengan,

بسم الله الرحمن الرحيم  ‘maka perkara tersebut adalah
abtar, atau aqtok, atau ajdzam. Kata 
البال “dalam hadis di atas berarti kemuliaan, keagungan,
keadaan, dan keadaan yang dinilai penting oleh Syariat. Sedangkan
pengertian “dinilai penting oleh Syariat” adalah perkara yang
dianjurkan atau diperbolehkan oleh syariat, sekiranya perkara itu
tidak diharamkan karena dzatnya dan tidak dimakruhkan karena
dzatnya. Oleh karena itu, basmalah tidak dianjurkan dalam perkara- perkara yang remeh atau hina, seperti menyapu kotoran hewan, dan
tidak dianjurkan dalam dzikir yang murni (mahdoh), seperti dzikir
Laa Ilaha Illa Allah.

وقال الشيخ عميرة والبال أيضاً القلب كأن الأمر لشرفه وعظمه ملك قلب صاحبه
لاشتغاله به وفي قوله فيه للسببية على قياس قوله صلى الله عليه وسلّم دخلت امرأة النار
في هرة أي بسببها حبستها وهي امرأة من بني إسرائيل

Syeh Umairah berkata, lafadz ‘البال ‘juga bisa berarti ‘القلب ‘atau hati. Oleh karena itu, seolah-olah perkara tersebut, karena
kemuliaan dan keagungannya, telah menguasai hati orang yang
melakukan perkara tersebut karena hatinya tengah dihadapkan
dengan dan difokuskan pada perkara itu.

Lafadz ‘فى ‘dalam sabda Rasulullah ‘فيه ‘di atas memiliki arti
sababiah berdasarkan pengqiasan dengan sabda beliau;

دخلت امرأة النار

“Seorang wanita masuk ke dalam neraka sebab kucing [yang ia
kekang dan tidak diberinya makan].” Wanita tersebut berasal dari
Bani Israil.

والأبتر مقطوع الذنب والأقطع من قطعت يداه أو إحداهما والأجذم بالذال المعجمة
المقطوع اليد وقيل الذاهب الأنامل وقال البراوي هو علة معروفة فهو من باب التشبيه
البليغ

Lafadz ‘الأبتر ‘berarti yang terpotong ekornya. Lafadz ‘الأقطع ‘berarti orang yang terpotong kedua tangannya atau salah satu dari
keduanya. Lafadz ‘الأجذم ‘dengan huruf /ذ /yang bertitik satu berarti
yang terpotong tangannya. Ada yang mengatakan lafadz ‘الأجذم ‘berarti yang hilang jari-jarinya. Al-Barowi berkata, “Ajdzam adalah
sebuah penyakit tertentu yang sudah terkenal.” Dalam hadis Kullu
Amrin ...dst di atas mengandung susunan tasybih al-baligh.

ومعنى الحديث كل شيء له شرف وعظمة أو كل شيء يطلب أو يباح أو كل شيء له
قلب أي يملك قلباً لا يبدأ بسبب ذلك الشيء ببسم االله الرحمن الرحيم فهو كالحيوان
المقطوع الذنب أو كمن قطعت يداه أو كمن ذهبت أنامله أو كمن به جذام في نقصه
وعيبه شرعاً وإن تم حساً 

Arti hadis di atas adalah “Setiap perkara yang memiliki
kemuliaan atau keagungan, atau setiap perkara yang dianjurkan
dilakukan atau yang diperbolehkan dilakukan atau setiap perkara
yang memiliki hati, yang sebab perkara tersebut tidak diawali dengan

بسم الله الرحمن الرحيم
 ‘maka perkara tersebut adalah seperti hewan yang
terpotong ekornya, atau seperti manusia yang terpotong kedua
tangannya, atau seperti manusia yang hilang jari-jarinya, atau seperti
manusia yang mengidap penyakit kusta, dalam artian bahwa perkara
tersebut memiliki kekurangan dan cacat menurut syariat meskipun
secara dzohir atau nampaknya, perkara tersebut telah terselesaikan.

*Catatan*

Membaca basmalah ada yang sunah
bahkan haram
dan tidak sunah

1️⃣ Membaca basmalah sebelum membaca Al-Qur'an hukumnya sunnah

ـ (فرع) تُسنّ التسميةُ لتلاوَةِ القرآنِ، ولو مِن أثناءِ سُورَةٍ في صلاةٍ أو خارِجِها، ولِغُسْلٍ وَتيمم وذَبْح ـ اهـ فتح المعين ص ٥١

Cabang : Disunnahkan membaca basmalah untuk tujuan membaca Al-Qur'an walaupun ketika ditengah tengah membaca surah Al-Qur'an di dalam sholat maupun diluar sholat, begitu juga disunnahkan membaca basmalah untuk tujuan mandi, tayammum, maupun menyembelih binatang 
Fathul Mu'in halaman 51

2️⃣Baca BASMALAH itu  terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)

قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج

Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh..
Hawasyi Assyarwaani wa al ‘ubaady II36

كتاب نهاية القول المفيد :

وليحافظ على قراءة البسملة أول كل سورة غير براءة، لأن أكثر العلماء على أنها آية، فإذا أخل بها كان تاركاً لبعض الختمة عند الأكثرين أما في الإبتداء بما بعد أوائل السور ولو بكلمة فتجوز البسملة وعدمها لكل من القراء تخييرا 

Kitab Nihayah Qoul Al-Mufid
Dan jagalah dengan benar benar untuk membaca basmallah di awal setiap surat selain surat baro'ah, karena kebanyakan ulama' berpendapat bahwa basmallah termasuk ayatnya surat, ketika basmallah tidak dibaca di awal surat maka dia termasuk orang yang meninggalkan sebagian yang sempurna menurut kebanyakan ulama'
Adapun membaca basmallah dalam permulaan yang setelah awal surat walaupun satu kalimat maka hukumnya boleh , tidak membaca basmallah  juga boleh, hal itu TERSERAH bagi pembacanya



(فَصْلٌ) السُّنَّةُأَنَّ الْمُسْلِمَ يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ قَبْلَ كُلِّ كَلاَمٍ ِلأَنَّهُ تَحِيَّةٌ يَبْدَأُ بِهِ فَيَفُوْتُ بِاْلإِفْتِتَاحِ بِالْكَلاَمِ كَتَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ.

3️⃣PASAL
Yang sunah orang salam itu mulainya sebelum bicara apa-apa …
Salam adalah sebelum berbicara. Karena salam adalah penghormatan yang dibuat permulaan. Sunahnya tidak ada jika sudah dimulai dengan bicara dahulu. Seperti sunahnya tahuyatul masjid, sebelum melakukan apa-apa"
Al-Adzkar An-Nawawi I/168

Hukum membaca bismillah sebelum salam adalah tidak sunah untuk dijawab, alasanya hukum sunahnya memulai sesuatu dengan mengucapkan bismillah sebagaimana dalam hadits كلّ أمر ذى بال إلخ itu berlaku kalau memang perkaranya bukan dzikir yang murni sebagaimana bacaan ayat al-Qur’an yang dibuat dzikir sehingga kalau nanti perkara itu adalah asalnya untuk dzikir maka tidak sunah memulainya dengan bacaan bismillah padahal mengucapkan salam itu asalnya memang untuk dzikir oleh karenanya kalau didahului dengan bacaan bismillah maka itu termasuk mendahului dengan kalam yang punya pengaruh hukum tidak sunah dijawab.

Dengan ibarot sebagai berikut :

ومنها أن يبدأ كل مسلم منهم بالسلام قبل الكلام ويصافحه عند السلام قال النبى من بدأ بالكلام قبل السلام فلا تجيبوه حتى يبدأ بالسلام .اهـ إحياء علوم الدين الجزء الثانى ص 200 باب حقوق المسلم

والمراد بالأمر ما يعم القول كالقرأة والفعل كالتأليف, ومعنى ذى بال أى صاحب حال بحيث يهتم به شرعا أى بأن لا يكون من سفاسف الأمور وليس محرما ولا مكروها. ويشترط أيضا أن لا يكون ذكرا محضا ولا جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة, وخرج ما جعل الشارع له مبدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فلا يبدؤ بالبسملة ولا بالحمدلة بل بالتكبير مثلا.اهـ
تحفة المريد على جوهر التوحيد ص 3.

ويشترط ان لايكون ذلك الامر ذكرا محضا بان لم يكن ذكرا أصلا أو كان ذكرا غير محض كالقرآن فتسن التسمية فيه بخلاف الذكر المحض كلا إله إلا الله. وان لا يجعل له الشارع مبتدأ غير البسملة والحمدلة كالصلاة فإنه جعل لها مبتدئ غير البسملة والحمدلة وهو التكبير.اهـ
الباجورى الجزء الأول ص 11.



والله اعلم

Hikmah Asyhurul Hurum

Hikmah ada Bulan Muharram di awal di tengah dan di akhir Tahun Hijriyah.

الْحِكْمَةُ فِي جَعْلِ الْمُحَرَّمِ أَوَّلَ السَّنَةِ أَنْ يَحْصُلَ الِابْتِدَاءُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَيُخْتَمَ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَتُتَوَسَّطَ السَّنَةُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَهُوَ رَجَبٌ وَإِنَّمَا تَوَالَى شَهْرَانِ فِي الْآخِرِ لِإِرَادَةِ تَفْضِيلِ الْخِتَامِ وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Hikmah dijadikan bulan muharram di awal tahun, agar hasil permulaan tahun dengan bulan Haram (Muharram) dan di akhiri dengan bulan Haram (dzul qa'dah dan dzul Hijjah) dan di tengah tahun dengan bulan Haram yaitu bulan Rajab".

"Sesungguhnya bergandengnya dua bulan Haram di akhir tahun, karena maksud mengagungkan pengakhiran dan mengagungkan amal amal dengan penutupan".

[ابن حجر العسقلاني، فتح الباري لابن حجر، ١٠٨/٨]

Sumber: Fathul Bari Ibnu Hajar Al Asqalani Juz 8 hal 108

Catatan:

Semoga maksudnya adalah: "bahwa satu tahun di awali dengan keagungan di tengahi dengan keagungan dan di akhiri dengan keagungan terutama mengangkat keagungan amal amal perbuatan mulia".

KENAPA DISEBUT HARI ASYURO

Abu Laits As Samarqandi Rahimahullah berkata:

قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا سُمِّيَ عَاشُورَاءُ لِأَنَّهُ عَاشِرُ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ، 

Berkata sebagian Ulama:"Dikatakan Asyuro karena dia hari kesepuluh dari bulan Muharrom"

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَكْرَمَ فِيهِ عَشْرَةً مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، بِعَشْرِ كَرَامَاتٍ 

Dan berkata sebagian Ulama: "Karena Allah Memuliakan 10 Nabinya dihari itu dengan 10 kemuliaan."

تَابَ اللَّهُ عَلَى آدَمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَرَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى إِدْرِيسَ مَكَانًا عَلِيًّا فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ، وَاسْتَوَتْ سَفِينَةُ نُوحٍ عَلَى الْجُودِيِّ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَوُلِدَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ، وَاتَّخَذَهُ خَلِيلًا وَأَنْجَاهُ مِنَ النَّارِ كَذَلِكَ، 

"Allah menerima taubat Nabi Adam di hari Asyuro, dan Allah mengangkat Nabi Idris Alaihissalaam ke tempat yang tinggi di hari Asyuro, dan berlabuhnya kapal Nabi Nuh Alaihissalaam di bukit Judi dihari Asyuro, dan dilahirkanya Nabi Ibrahiim Alaihissalaam di hari Asyuro, dan dijadikanya sebagai Khalil (kekasih Allah) dan diselamatkan dari api begitu juga (di hari Asyuro"

وَتَابَ اللَّهُ عَلَى دَاوُدَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَرَفَعَ اللَّهُ عِيسَى يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَأَنْجَى اللَّهُ مُوسَى مِنَ الْبَحْرِ، وَأَغْرَقَ فِرْعَوْنَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَأَخْرَجَ يُونُسَ مِنْ بَطْنِ الْحُوتِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَرَدَّ مُلْكَ سُلَيْمَانَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَوُلِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ،

"Allah menerima taubat Nabi Daud Alaihissalaam di hari asyuro, dan Allah mengangkat Nabi Isa Alaihissalaam di hari Asyuro, dan Allah menyelamatkan Nabi Musa Alaihissalaam dari laut dan menenggelamkan Firaun di laut di hari Asyuro, Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman Alaihissalaam di hari Asyuro, dan dilahirkanya Nabi Shollallahu alaihi wa Sallam di hari Asyuro"

 قَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّمَا سُمِّيَ عَاشُورَاءَ لِأَنَّهُ عَاشِرُ عَشْرِ كَرَامَاتٍ، أَكْرَمَ اللَّهُ بِهَا هَذِهِ الْأُمَّةَ.

Sebagian Ulama berkata: "Sesungguhnya dinamai Asyuro karena menyertakan sepuluh kemuliaan yang Allah memuliakan denganya untuk ummat ini"

[أبو الليث السمرقندي، تنبيه الغافلين بأحاديث سيد الأنبياء والمرسلين للسمرقندي، صفحة ٣٣٣]

Sumber
Kitab Tanbihul Ghafilin Hal 333

Wallahu A'lam

Sabtu, 16 Juli 2022

Ngaji kitab kasyifatu saja 3.



قال المصنف رحمه االله تعالى (بسم االله الرحمن الرحيم ) أي بكل اسم من أسماء الذات
الأعلى الموصوف بكمال الأفعال أو بإرادة ذلك أؤلف متبركاً أو مستعيناً فسره بذلك
شيخنا أحمد الدمياطي في حاشيته على أصول الفقه

Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi berkata,

بسم الله الرحمن الرحيم

artinya dengan perantara setiap nama dari nama-nama Dzat Yang
Maha Tinggi, yang bersifatan dengan kesempurnaan perbuatan- perbuatan atau yang bersifatan dengan menghendaki perbuataan- perbuatan, aku menyusun [kitab] seraya mengharap barokah atau
meminta pertolongan. Tafsiran basmalah ini adalah tafsiran yang
dijelaskan oleh Syaikhuna ad-Dimyati dalam Khasyiah Ushul Fiqih- nya.

Anjuran Mengawali Sesuatu dengan Basmalah

ابتدأ المصنف كتابه بالبسملة اقتداء بالكتاب العزيز في إبدائه ا أي في اللوح المحفوظ
أو بعد جمعه وترتيبه في المصحف، وأما ما روي أن أول ما كتبه القلم أنا التواب وأنا
أتوب على من تاب فهو في ساق العرش 

Mushonnif, yaitu Syeh Salim bin Sumair al-Hadromi
mengawali kitabnya dengan basmalah karena mengikuti al-Quran
yang mulia, yang mana al-Quran juga diawali dengan basmalah, maksudnya, al-Quran diawali dengan basmalah saat al-Quran itu
masih ada di Lauh Mahfdudz, atau setelah dikumpulkan dan
diurutkan dalam mushaf. Adapun riwayat yang menyebutkan, “Yang
pertama kali ditulis oleh al-qolam adalah kalimat, ‘Aku adalah Allah
Yang Maha menerima taubat dan Aku akan menerima taubat hamba
yang bertaubat,’” maka tulisan tersebut terdapat di tiang ‘Arsy.

وامتثالاً وإطاعة لأمره صلى االله عليه وسلّم في قوله إن أول ما كتبه القلم بسم االله
الرحمن الرحيم فإذا كتبتم كتاباً فاكتبوها أوله وهي مفتاح كل كتاب أنزل ولما نزل على
جبريل ا أعادها ثلاثاً وقال :هي لك ولأمتك فمرهم لا يدعوها في شيء من أمورهم
إذا كتبتم كتاباً فاكتبوا في أوله بسم االله الرحمن الرحيم وإذا كتبتموها فاقرؤوها وروي عنه فإني لم أدعها طرفة عين مذ نزلت على أبيك آدم عليه السلام وكذا الملائكة وفي رواية
صلى االله عليه وسلّم أنه قال تخلقوا بأخلاق االله ولا شك أن عادته تعالى في ابتداء كل
سورة الإتيان بالبسملة سوى براءة فنحن مأمورون به

Selain itu, Syeh Salim bin Sumair mengawali kitabnya
dengan basmalah karena mengikuti dan mentaati perintah Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallama dalam sabdanya, “Sesungguhnya
yang pertama kali ditulis oleh al-qolam adalah.

 بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh
karena itu, ketika kalian menulis sebuah buku maka tulislah
basmalah di awalnya. Basmalah adalah kunci atau pembuka setiap
kitab yang diwahyukan. Ketika Jibril turun menemuiku membawa
wahyu basmalah, ia membacanya tiga kali dan berkata, ‘Basmalah
adalah untukmu dan umatmu. Perintahkanlah mereka untuk tidak
meninggalkan basmalah dalam semua urusan mereka, karena
sesungguhnya aku tidak pernah meninggalkannya sekedip matapun
semenjak basmalah diturunkan kepada bapakmu, Adam ‘alaihi as- salaam. Begitu juga para malaikat tidak pernah meninggalkannya.’”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Ketika kalian menulis
sebuah kitab atau buku, maka tulislah basmalah pada permulaannya.
Kemudian ketika kalian sudah menulisnya maka bacalah basmalah
itu.”
Diriwayatkan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama
bahwa beliau bersabda, “Berbuatlah seperti perbuatan Allah!” Tidak
diragukan lagi bahwa kebiasaan perbuatan Allah adalah mengawali
setiap Surat dalam al-Quran dengan basmalah kecuali Surat at- Taubat. 

 Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mengawali
melakukan perbuatan yang baik menurut syariat dengan basmalah.

Catatan.


SEBAGIAN FADHILAH BASMALLAH

Dinukil dari kitab 'Uqudul Lujain Mbah Nawawi.

اعلم: أن البسملة كثيرةُ البركة، من ذكَرها حصل له المأمولُ، ومن واظب عليها حظى بالقبول،

ketahuilah bahwa sesungguhnya basmalah itu banyak berkahnya, barang siapa menyebutnya maka bisa mendapatkan apa yg di angankan dan barang siapa yg merutinkan membaca basamalah maka akan memperoleh penerimaan.

قيل: إن الكتب المنزلة من السماء إلى الأرض مائة وأربعةٌ: صُحُف شيث ستون، وصحفُ إبراهيم ثلاثون، وصحفُ موسى قبل التوراة عشرةٌ، والتوراةُ، والإنجيلُ، والزبورُ، والفرقانُ. ومعانى كل الكتب مجموعةٌ في القرآن، ومعانى القرآن مجموعةٌ في الفاتحة، ومعانى الفاتحة مجموعةٌ فى البسملة، ومعانى البسملة مجموعة فى بائها.

dikatakan bahwa sesungguhnya kitab kitab yg diturunkan dari langit ke bumi sebanyak 104, perinciannya suhufnya nabi Tsis sebanyak 60, suhufnya Nabi Ibrahim sebanyak 30, suhufnya Nabi Musa sebelum Taurat sebanyak 10, kemudian kitab Taurat, Injil, Zabur dan Alqur'an.

makna semua kitab kitab tersebut terkumpul di dalam Alqur'an, maknanya alqur'an terkumpul dalam surat alfatekhah, maknanya surat alfatekhah terkumpul dalam basmalah dan makananya  basamalah terkumpul dalam huruf ba'nya.

وكان بعضُ العلماء الصالحين أصابه مرضٌ شديدٌ أعجز الأطباءَ، فتفكّر في بعض الأعيان تلك العبارة، فواظب على البسملة من غير عددٍ محصورٍ، فشفاه الله تعالى ببركتها.

dulu sebagian ulama' yg sholeh tertimpa suatu penyakit berat yg tdk bisa disembuhkan oleh para dokter, kemudian ulama' tsb disebagian waktunya memikirkan 'ibarot tersebut , setelah itu sang ulama' merutinkan membaca basmalah dengan tanpa batas hitungan maka Allah ta'ala menyembuhkannya dengan berkahnya basamalah.
 
والله أعلم

Ngaji kitab kasyifatu saja 2



(هذه) تقييدات نافعة إن شاء االله تعالى على المختصر الملقب بسفينة النجا في أصول
الدين والفقه للشيخ العالم الفاضل سالم بن سمير الحضرمي إقليماً والبتاوي وفاة نور االله
ضريحه تتمم مسائله وتفك مشكله وتفصل مجمله
Kitab ini adalah catatan-catatan bermanfaat, in syaa Allah, atas kitab ringkasan yang berjudul Safinatu an-Naja Fii Ushul ad- Diin Wa al-Fiqhi karya Syeh al-Alim al-Fadhil Salim bin Sumair
yang berasal dari daerah Hadrami (diambil dari Hadramaut, Yaman)
dan wafat di daerah Betawi1
, Semoga Allah menyinari kuburannya.
Kitab ini akan melengkapi masalah-masalah dalam kitab Safinatu an- Naja, memperjelas keterangan-keterangan sulitnya, dan merinci
pernyataan-pernyataan umumnya.
وضعتها لتكون تذكرة لنفسي وللقاصرين مثلي من أبناء جنسي وسميتها (كاشفة السجا
في شرح سفينة النجا) وأوضحته بالتراجم بالفصل وغيره اقتداء بكتاب االله تعالى في كونه مترجماً مفصلاً سوراً سوراً ولأنه أبعث على الدرس والتحصيل منه وأقحمت فيه
فصل الصيام إن شاء االله تعالى ليزيد النفع على العوام بعون الملك العلام وجعلته كهيئة
المتن مع الشرح في المشابكة لتوافق صورة الفرع صورة الأصل فإن شرط المرافقة الموافقة
Aku menyusun syarah yang berisi catatan-catatan ini dengan
tujuan mengingatkan diriku sendiri dan orang-orang bodoh sepertiku.
Aku memberi judul syarah ini dengan ‘Kasyifatu as-Saja Fi Syarhi
Safinati an-Naja.’ Dalam syarah ini, aku menerangkan isi kitab
Safinatu an-Naja dalam bentuk susunan yang terdiri dari fasal-fasal
dan lain-lainnya (spt; tanbih, far’un, faedah, khotimah, dll) dengan
tujuan mengikuti [bentuk susunan] al-Quran yang juga diterangkan
dan ditampilkan dalam bentuk fasal dan surat demi surat dan dengan
tujuan agar lebih mudah untuk dipelajari dan dipahami. Aku
memasukkan fasal puasa di dalam kitab syarah-ku ini, in syaa Allah, agar lebih memberikan tambahan manfaat kepada orang-orang
awam.
Aku menyusun syarah kitab Safinah an-Naja ini dengan
perantara pertolongan Allah Yang Maha Merajai dan Mengetahui.
Aku menyusunnya dengan bentuk susunan sebagaimana umumnya, yakni, seperti susunan sebuah kitab matan dengan kitab syarahnya
dari segi hubungannya, agar bentuk cabang sesuai dengan bentuk
asalnya, karena syarat tabik atau sesuatu yang mengiringi harus
sesuai dengan matbuk atau sesuatu yang diiringi.

نسأله سبحانه تبارك وتعالى أن يعيننا على إكمالها وييسر الأسباب في افتتاحها
واختتامها وما حملني على جمعها إلا رجاء دعوة رجل صالح ينتفع منها بمسألة فيعود
نفعها علي في قبري لحديث إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية
أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له وأنا وإن كنت لست أهلاً لهذا الشأن والحال
قصدت التشبه بالرجال لأفوز بصحبتي إياهم لما ورد في الخبر من تشبه بقوم فهو منهم
وأردت الغوص في محبتهم لأحشر معهم لحديث البخاري يحشر المرء مع من أحب

Aku meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semoga
Dia menolongku menyelesaikan kitab Kasyifatu as-Saja ini dan
memudahkan langkah-langkahku untuk mengawali dan
mengakhirinya. Tidak ada hal yang memotivasiku untuk menyusun
kitab ini kecuali hanya mengharapkan doa-doa dari hamba-hamba
sholih yang mengambil manfaat dari satu masalah yang terdapat
dalam kitab ini, sehingga manfaatnya pun akan kembali kepadaku di
dalam kuburanku, karena berdasarkan hadis, “Ketika anak cucu
Adam telah meninggal dunia maka amalnya telah terputus kecuali 3
(tiga) perkara, yaitu shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan
anak sholih yang selalu mendoakan,” meskipun aku sendiri
sebenarnya bukanlah ahli atau cakap dalam perihal menyusun kitab.
Aku hanya berniat ingin meniru para ulama agar aku mendapatkan
keberuntungan sebab bergabung dengan mereka, karena berdasarkan
hadis, “Barang siapa meniru suatu kaum maka ia termasuk dari
golongan mereka.” Aku ingin menyelam ke dalam [lautan] mencintai
mereka agar aku kelak dikumpulkan bersama mereka, karena
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori, “Seseorang akan
dikumpulkan bersama orang-orang yang ia cintai.”

وينبغي لمن وقف على هفوة أن يصلحها بعد التأمل نسأل االله تعالى أن يبدل حالنا إلى
أحسن الأحوال وأن يجعلنا ممن تسعى إليه الناس لأخذ العلم لا لحظوظ الدنيا الفانية
وأن يمتعنا بالنظر إلى وجهه الكريم في الدار الباقية
Bagi siapapun yang menemukan kesalahan dalam kitab ini
hendaklah ia memperbaiki kesalahan tersebut setelah berangan- angan dan berpikir keras dan cerdas.
Aku meminta kepada Allah semoga Dia mengganti keadaanku
menjadi keadaan yang lebih baik, semoga Dia menjadikanku
termasuk orang yang diikuti oleh orang-orang lain karena tujuan
ingin mengambil ilmu [dariku], bukan karena ingin menghasilkan
tujuan-tujuan duniawi yang fana, dan semoga Dia nanti
menganugerahiku dengan anugerah melihat Dzat-Nya Yang Mulia di
akhirat yang kekal.

Catatan..

Diantara ketawaduan seorang mualif mushonif 
penyarah dll.

إن لم تكونوا مثلهم فتشبهوا # إن التشبه بالكرام فلاح

penyair berkata : jika kalian tidak bisa menjadi seperti mereka ( ulama' ) , maka tasyabbuhlah (menyerupai) mereka, karena tasyabbuh dg orang2 mulia itu adalah sebuah kebahagiaan.

( وفوق كل ذي علم عليم ) قال الحسن البصري : ليس عالم إلا فوقه عالم ، حتى ينتهي إلى الله عز وجل..

“…Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ‎ada yang Maha Mengetahui”

 (Q.S. Yusuf : 76)‎

Imam Hasan Al-Bashri ketika memaknai maksud ayat ini, sebagaimana ‎dikutip oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya, mengatakan bahwa tiadalah orang ‎alim, kecuali di atasnya ada orang alim lainnya, hingga ilmu itu terhenti ‎kepada Allah عز وجل.‎

والله أعلم

Jumat, 08 Juli 2022

Ngaji kitab kasyfatu saja.(1)


من يرد االله به خيرا يفقهه فى الدين (الحديث)

Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan niscaya Dia
akan memahamkannya di dalam agama. (Hadis)

بسم االله الرحمن الرحيم..

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan
Penyayang

الحمد الله الذي وفق من شاء من عباده لأداء أفضل الطاعات واكتساب أكمل
السعادات
Segala pujian hanya milik Allah yang telah memberikan
taufik-Nya kepada hamba-hamba yang Dia kehendaki untuk
melakukan ketaatan dan mencari keberuntungan yang paling
sempurna.

وأشهد أن لا إله إلا االله المتصف بجميع الكمالات وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله
أفضل المخلوقات صلى االله عليه وسلّم وعلى آله وأصحاب الأنجم النيرات صلاة
وسلاماً دائمين ما دامت الأرض والسموات 

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang haq untuk
disembah selain Allah. Dia adalah Allah yang memiliki segala sifat
kesempurnaan. Dan aku bersaksi bahwa pemimpin kita, Muhammad,
adalah hamba-Nya, rasul-Nya, dan makhluk-Nya yang terbaik.
Semoga Allah mencurahkan tambahan rahmat dan salam kepadanya,
keluarganya, dan para sahabatnya yang bagaikan bintang-bintang
bersinar, dengan curahan rahmat dan salam yang selalu tercurahkan
atas mereka selama bumi dan langit masih ada.
(أما بعد) فيقول العبد الفقير المضطر لرحمة ربه العليم الخبير لكثرة التقصير والمساوي أبو
عبد المعطي محمد نووي بن عمر الجاوي الشافعي مذهباً البنتني إقليماً التناري منشأ وداراً 
غفر االله ذنوبه وستر في الدارين عيوبه 
(Amma Ba’du)
Berkatalah seorang hamba yang sangat membutuhkan
rahmat Tuhan-nya Yang Maha Mengetahui karena saking banyaknya
kecorobohan dan kesalahan yang ia lakukan, yaitu ia adalah Abu
Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi yang
bermadzhab Syafii, yang berasal dari daerah Banten, yang lahir di
desa Tanara, Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menutupi
aib-aibnya di dunia dan akhirat;

 Catatan.

وقد روينا فى صحيح مسلم عن أبى هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مَنْ دَعَا اِلَى هُدى كَانَ لَهُ من الأَجْرِ مِثْلُ أجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُضُ ذَلِكَ مِنْ أجُوْرِهِمْ شَيْئًا


Dalam kitab hadis Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah رضي الله عنه. bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebaikan) maka dia berhak memperoleh balasan pahala seperti pahala orang yang mengikuti petunjuknya itu, tanpa ada pengurangan sedikit pun terhadap pahala yang diperoleh orang yang melakukannya”.

فاردت مساعدة أهل الخير بتسهيل طريقه والإشارة اليه وإيضاح سلوكه والدلالة عليه وأذكر فى اول الكتاب فصولا مهمة يحتاج اليها صاحب هذا الكتاب وغيره من المعتنين

Maka saya berharap dalam penyusunan ini dapat membantu mereka yang senang berbuat kebaikan dengan mempermudah jalan, dan petunjuk serta penjelasan yang menuntun jalan mereka.

 قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم إِنَّمَا الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإنّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ ما نَوَى فَمَنْ كَنَتْ هِجْرَتُهُ اِلى اللهِ وَرَسولِهِ فَهِجرتُهُ اِلى اللهِ وَرَسولِهِ وَمَنْ كَنَتْ هِجْرَتُهُ اِلى دُنيا يُصِيْبُوْنَهَا او إمْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجرتُهُ اِلى مَا هَاجَرَ اِلَيْهِ

Telah bersabda Rasulullah صلى الله علي وسلم  “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niat, dan (segala sesuatu itu tergantung kepada apa yang diniatkannya / tujuannya). Maka, barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dicarinya atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya akan sampai kepada apa yang mereka hijrahi itu”.


هذا حديث صحيح متفق على صحته مجمع على عظم موقعه وجلالته وهو احد الأحاديث التى عليها مدار الإسلام وكانت السلف وتابعوهم من الخلف رحمهم الله يستحبون استفتاح المصنفات بهذا الحديث تنبيها للمطالع على حسن النية واهتمامه بذلك والاعتناء به

Hadis ini merupakan hadis shahih yang disepakati keshahihannya dan keagungan derajatnya diakui secara ijma’. Dan hadis ini merupakan salah satu hadis yang dijadikan poros berputarnya agama Islam. Para penulis kitab terdahulu beserta para ulama masa kini yang mengikuti mereka sangat menyukai hadis ini dan sering menjadikannya sebagai pembuka dalam kitab karangannya, hal ini dimaksudkan sebagai peringatan kepada para pembaca agar meluruskan dan memperbaiki niat.

روينا عن الإمام ابى سعيد عبد الرحمن بن مهدى رحمه الله تعالى من اراد ان يصنف كتابا فاليبدأ بهذا الحديث

Imam Abi Said Abdurrahman bin Mahdy rahimahullah Ta’ala meriwayatkan bahwa barang siapa yang hendak menulis atau menyusun sebuah kitab, hendaklah ia mengawali penyusunannya dengan mencantumkan hadis ini.

وقال الإمام ابو سليمان الخطابى رحمه الله كان المتقدمون من شيوخنا يستحبون تقديم حديث الأعمال بالنية أمام كل شيئ ينشأ ويبتدأ من امور الدين لعموم الحاجة اليه فى جميع أنواعها

Dan Abu Sulaiman al-Khattabi rahimahullah mengatakan para guru kita yang terdahulu sangat suka mendahulukan hadis ini..

(Dalam setiap permulaan segala sesuatu yang mereka buat, baik dalam urusan agama maupun dalam hal apa saja..)

والله اعلم